Di ruang makan keluarga Mahardika, Raya duduk dengan secangkir teh hangat di tangannya, menatap kosong ke arah jendela. Pikirannya melayang jauh, ke Amerika, ke pertemuan yang akan terjadi, ke Tania. Ponsel Ares berdering, memecah keheningan pagi. Ia mengangkatnya dengan cepat. "David?" "Selamat pagi, Tuan," suara David terdengar bersemangat di ujung sana. "Kabar baik. Visa Nyonya Raya sudah selesai. Saya baru saja mengambilnya dari kedutaan pagi ini. Semuanya sudah lengkap. Visa, tiket pesawat, dokumen perjalanan." Ares menghembuskan napas lega yang tidak ia sadari sedari tadi ia tahan. "Bagus. Kapan keberangkatan kita?" "Besok malam, Tuan." "Baik. Kirimkan semua detail ke emailku. Dan pastikan semua persiapan di sana sudah siap, hotel, mobil, jadwal dengan rumah sakit tempat." "Sudah saya atur semuanya, Tuan. Tim di sana juga sudah standby." "Kamu akan berangkat satu penerbangan dengan kita bukan?" tanya Ares. "Tentu, Tuan." "Terima kasih, David." Ares menutup telepon, la
Read more