Aku sedang makan mi instan saat Andreas datang. Langkahnya terhenti begitu melihat mangkuk di hadapanku. Alisnya langsung berkerut. Tanpa aba-aba, dia mengambil mangkuk mi itu dari tanganku, lalu meletakkannya jauh. Sebagai gantinya, dia mendorong sepotong roti dan segelas susu ke hadapanku. “Kamu lagi hamil,” ucapnya tegas. Aku mendengus. “Aku baru makan dua suap.” “Lain kali satu suap pun nggak boleh,” balasnya dingin, tanpa nada bercanda. Aku memutar bola mata. “So perhatian banget.” Tiba-tiba Andreas menggeser kursiku hingga tubuhku menghadap langsung ke arahnya. Dia setengah berjongkok, wajahnya kini sejajar dengan wajahku. Jarak kami terlalu dekat. Tatapannya tajam, menusuk. “Aku beneran perhatian,” katanya rendah. Aku menelan ludah. Kata-kata itu membuatku kehilangan suara. Aku bahkan bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat di kulitku. Aneh, padahal kami sudah tidur bersama, akan menikah, bahkan punya anak. Tapi setiap kali dia sedekat ini, jantungku tetap
Last Updated : 2026-01-07 Read more