Dengan gerakan cepat tapi lembut, Nathan mengangkat Ariel ke pelukannya, kakinya melingkar di pinggangnya. Ariel tertawa kecil, tapi tawa itu berubah jadi erangan saat bibir Nathan kembali menyerang lehernya, menghisap kulit sensitif di bawah telinga. Ia berjalan menuju kamar tidur, setiap langkah membuat tubuh mereka bergesekan, menambah gesekan yang menyiksa. Pintu kamar terbuka, dan Nathan meletakkan Ariel di atas kasur king-size yang empuk, seprai putihnya kontras dengan dress merahnya. Kamar itu redup, hanya diterangi lampu samping tempat tidur yang kuning lembut. Nathan berdiri sejenak, menatap Ariel dengan lapar. "Kau bebar-benar mau aku, kan?" katanya, sambil melepas kemeja hitamnya, memperlihatkan dada berotot dengan garis-garis perut six-pack yang berkilau oleh keringat tipis. "Ya..." Ariel bangkit berlutut, tangannya menyentuh dada itu, jarinya menelusuri setiap lekuk, merasakan detak jantungnya yang kencang. Mereka kembali berciuman, kali ini di atas kasur. Nathan m
Dernière mise à jour : 2026-01-31 Read More