Ariel menatap ke arah ranjang kamarnya, matanya melebar tak percaya.“Silvi… kamu… ngapain?” suaranya bergetar, seolah tenggorokannya mengering dalam sekejap.Silvi tersentak, wajahnya pucat, sementara seorang pria di belakangnya buru-buru menarik selimut menutupi tubuh mereka. Kamar yang biasa menjadi tempat Ariel istirahat dan menulis kini seperti menjadi tempat asing yang baru saja diobrak-abrik.“Ariel, aku… aku pinjam kamarmu ya, cuma malam ini saja,” ucap Silvi tergesa, nadanya setengah memohon, setengah malu. “Sekali ini saja,ya...”Ariel berdiri kaku di ambang pintu, otaknya kosong. Pandangannya shock, ingin bertanya seribu hal, tapi lidahnya kelu. Ia hanya mengangguk perlahan, menutup kembali pintu kamarnya tanpa sepatah kata.Langkahnya gontai menuju sofa ruang tamu. Ia menjatuhkan diri di sana, menatap kosong ke arah lantai.Hening. Tapi tak lama, suara samar mulai terdengar dari balik pintu kamarnya — ritme napas yang cepat, desahan tertahan, dan suara ranjang berderit hal
Terakhir Diperbarui : 2025-11-30 Baca selengkapnya