Pagi itu Ubud terasa lebih sunyi dari biasanya bagi Nadia. Mungkin bukan karena tempatnya berubah, tetapi karena ia tahu waktu mereka di sini hampir habis. Beberapa hari lagi ia dan Daniel akan membawa Elena kembali ke Italia, menemui ibunya di sana. Setelah itu, hidup mereka akan kembali bergerak ke kota-kota lain Hamburg, Paris, dan perjalanan panjang yang belum sepenuhnya mereka bayangkan. Namun pagi itu masih milik Ubud. Masih milik halaman rumah orang tua Nadia, dengan pohon kamboja yang menjatuhkan bunga-bunga putih di tanah. Elena duduk di lantai teras sambil menyusun bunga kamboja menjadi lingkaran kecil. “Apa yang sedang kamu buat?” tanya Nadia yang duduk di sampingnya. “Mahkota,” jawab Elena. “Untuk siapa?” tanya Nadia. Elena berpikir sebentar. “Untuk Bali” jawab Elena singkat. Nadia tertawa kecil, tapi ada rasa hangat yang menyusup ke dadanya. Di kursi bambu dekat mereka, Daniel sedang memotret suasana pagi itu, ayah Nadia yang menyiram tanaman yang berada di te
Read more