Pagi di Ubud terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari menyelinap perlahan ke dalam kamar, menyentuh wajah Nadia yang terjaga sejak subuh. Ia tidak langsung bangun. Pikirannya masih tertinggal pada percakapan semalam, kata Hamburg yang kini tak lagi terasa asing, namun juga belum sepenuhnya ramah. Daniel tertidur di sisinya, napasnya teratur. Untuk sesaat, Nadia kembali menatap wajah lelaki itu, lelaki yang hidupnya berdiri di dua dunia yang sangat berbeda. Dunia yang dingin, rapi, penuh angka dan keputusan besar. Dan dunia kecilnya di Ubud hangat, berantakan dengan caranya sendiri, dan penuh mimpi yang tumbuh perlahan. Ia bangkit pelan, menuju dapur kecil. Saat sedang menuang air panas ke cangkir, Daniel muncul di ambang pintu. “Kamu bangun cepat,” kata Daniel, suaranya masih serak. Nadia tersenyum tipis. “Aku sulit tidur lagi.” Daniel mendekat, bersandar di meja. Ia tidak langsung bicara. Ada sesuatu yang jelas ingin ia sampaikan, tapi ia memilih waktu yang tepat sepert
Last Updated : 2025-12-21 Read more