Hamburg menyambut Daniel dengan angin musim gugur yang menusuk jaketnya, langit kelabu, dan ritme kota yang dingin namun efisien. Jauh berbeda dari Ubud yang hangat, penuh aroma kopi dan suara gamelan jauh di kejauhan. Di sini, semuanya terasa cepat, presisi, dan menuntut. Sejak perusahaan yang sempat ia tinggalkan mulai goyah, jadwal Daniel berubah menjadi labirin rapat, negosiasi, revisi kontrak, dan mengejar investor yang mulai ragu. Setiap hari dimulai sebelum matahari terbit dan diakhiri ketika langit sudah hitam total. Dan dalam kepadatan itu… nadanya pada Nadia pelan-pelan berubah. Bukan karena ia tak mencintai Nadia. Tapi rasa lelah, tekanan, dan tuntutan yang menumpuk membuat Daniel sering lupa merespon pesan. Atau sekadar mengetik, “Aku sibuk sekali hari ini. Nanti aku telepon.” Lalu telepon itu tak pernah datang. Di sisi lain dunia, Nadia mencoba memahami. Ia selalu mencoba. Ia tahu Daniel sedang memperbaiki kerajaannya, perusahaan yang selama ini ia sembunyikan dari
Last Updated : 2025-12-21 Read more