Share

193. Dua Janin Kembar

last update Last Updated: 2026-01-28 19:12:08

Kehamilan tidak menghalangi Sera untuk melakukan pekerjaannya dengan gesit.

Dia mencatat pesanan pelanggan yang datang, lalu mengantar makanan ke meja, merapikan bekas makan dari meja pelanggan yang selesai makan, kemudian mengelap meja.

Sera bekerja dari pukul sembilan pagi sampai pukul enam sore.

Warung makan Bu Teti memang tidak besar, tapi itu satu-satunya warung makan terkenal di desa itu.

Banyak pelanggan yang datang setiap harinya. Dari mulai pegawai kecamatan, pegawai desa, guru-guru sa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Laa
udah nunggu nihh
goodnovel comment avatar
Nur Lila
blm update ya ka ocha?
goodnovel comment avatar
april_hi
Si raven gak usah tau sera , biar aja bapaknya susah sendiri
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   266. Foto Suamiku

    Harum aroma kopi yang pekat menguar di udara saat cairan hitam itu mengalir ke dalam gelas kecil.Selagi menunggu kopi itu penuh, Sera memandangi Raven yang sedang duduk di meja makan, sibuk dengan iPad-nya, sementara tangan yang lain mengusap-usap bulu tebal Mickey yang meringkuk di kursi sampingnya.Sera tersenyum kecil. Pria itu selalu terlihat tiga kali lebih tampan ketika mengenakan setelan jas hitamnya.Setelah tidak terdengar air mengucur, Sera mengalihkan tatapannya ke mesin kopi. Lalu menuangkan kopi itu ke dalam cangkir.“Bu Sera, biar saya bantu bawakan kopinya,” tawar Ririn yang baru saja tiba di dapur.“Nggak apa-apa, Rin, biar aku saja.” Sera menolak dengan halus.Ririn tersenyum dan kembali mendekat. “Ini ‘kan sudah jadi tugas saya, Bu. Bu Sera lebih baik duduk aja.”Sera mengerutkan keningnya samar. Mulutnya terbuka hendak mencegah, tapi Ririn sudah lebih dulu mengambil kopi itu dan membawanya ke hadapan Raven.Sera hanya menghela napas panjang. Dia akan melangkah, aka

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   265. Mengelak

    Sera tercenung menatap pintu itu. Dadanya bergetar. Jari-jari tangannya yang dingin perlahan mencengkeram pakaiannya.Benarkah dirinya mendapatkan karma sekarang?Dulu dia pembantu yang tidak tahu diri dan berani berhubungan dengan majikannya. Tidak mungkin… Ririn dan Raven….Tidak. Tidak. Sera menggeleng cepat, berusaha mengenyahkan pikiran negatifnya itu.Tapi ini sudah terlalu lama. Jika Ririn hanya ingin menaruh teh, seharusnya dia sudah keluar sejak tadi, bukan?Apakah sekarang… semesta sedang membalas Sera? Karena kesalahan Sera di masa lalu?Sera menggigit bibir bawah. Dia kini berjalan mondar-mandir dengan perasaan tak nyaman. Tapi dia tidak berani mendekati pintu.Sera takut, jika dia masuk ke ruangan itu, dia akan melihat apa yang ada dalam pikirannya saat ini.Jadi, Sera memutuskan untuk memutar badan dan melangkah pergi. Namun hatinya terasa semakin berat. Napasnya sesak.Dia tidak bisa membayangkan laki-laki yang dicintainya sedang berduaan dengan perempuan lain. Di malam

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   264. Cemburu

    “Gimana, Mas? Enak?” tanya Sera, ragu. Menatap Raven dengan harap-harap cemas.Raven menghentikan kunyahan di dalam mulutnya, menatap Sera sambil menarik sudut bibirnya ke atas tipis. “Makanan buatanmu tidak pernah gagal.”“Syukurlah.”Sera menghela napas lega. Lalu dia menegakkan punggung dan memasukkan potongan pizza ke dalam mulutnya.Pada saat yang sama, tanpa sengaja pandangan Sera tertuju pada iPad Raven yang tergeletak di samping piring.Sera penasaran, apa yang tadi ditunjukkan Raven pada Ririn?Sera ingin bertanya pada Raven tapi dia takut dianggap terlalu ikut campur.Pada akhirnya Sera menurunkan pandangannya pada piring di hadapannya. Makanan di dalam mulutnya seketika terasa hambar dan terasa keras saat melewati tenggorokan.Jika boleh jujur, Sera merasa cemburu saat melihat Raven dan Ririn yang terlalu dekat seperti tadi. Walaupun sebenarnya sikap Raven terlihat dingin pada Ririn.Tapi Sera mengakui kalau Ririn adalah gadis muda yang cantik dan memiliki tubuh proporsiona

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   263. Buat Aku Bosan

    Raven menutup laptop di hadapannya. Lalu mengusap wajah kasar. Diliriknya jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.Kemudian detik itu juga Raven beranjak dari kursi dan bergegas keluar dari ruangan kerjanya itu. Baru tiga jam tidak melihat Sera, tapi Raven sudah merindukannya.Akhir-akhir ini Raven lebih sering bekerja dari rumah. Karena sebisa mungkin Raven ingin menebus waktu yang hilang bersama Sera. Setidaknya dengan tetap berada di rumah, Raven bisa melihat kondisi wanita itu lebih dekat.Raven mendorong pintu kamar sambil berkata, “Sayang, kamu sudah ti… dur?”Bibir Raven seketika mengatup rapat. Kedua sudut bibirnya terangkat samar. Lalu menutup pintu dan menghampiri Sera yang sudah terlelap di atas sofa panjang dengan kepala bersandar ke sandaran sofa.“Apa aku bekerja terlalu lama?” gumam Raven sambil duduk perlahan di samping Sera.Dipandanginya wajah wanita itu dengan lekat. Sera terlihat damai dan polos. Wajahnya tidak pernah membuat Raven bosan untuk menata

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   262. Ingin Jadi Satu-Satunya

    “Sera, apa semua laki-laki di dunia ini suamimu?”Kelopak mata Sera mengerjap pelan. Menatap suaminya dengan sedikit menelengkan kepala. Pria itu sulit ditebak. Bahkan Sera tidak mengira pertanyaan random itu akan keluar dari mulutnya.“Kenapa Mas tanya begitu?”Lagi, Raven mengembuskan napasnya kasar. Dia bersandar di kursi dan bersedekap dada. Bibirnya masih merengut tipis.“Setiap laki-laki yang berinteraksi denganmu hari ini, kamu panggil ‘mas’,” ujar Raven, rendah. “kasir es krim, pelayan barusan. Dan bahkan tadi di toko perlengkapan bayi, kamu memanggil ‘mas’ pada staf yang membantu mengeluarkan stroller.”Sera seketika terperangah. Ternyata itu yang membuat Raven terlihat kesal? Hanya gara-gara panggilan ‘mas’?Tawa Sera akhirnya meledak hingga matanya menyipit. “Panggilan ‘mas’ itu kan universal, Mas. Netral-netral aja. Bukan berarti aku menganggap pria lain suamiku.”Raven berdecak kesal dan memalingkan wajahnya ke arah lain. “Jadi maksudmu, di matamu aku hanya laki-laki bias

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   261. Berwajah Suram

    Mata Sera berbinar-binar ketika memasuki toko perlengkapan bayi yang super lengkap. Semua yang dibutuhkan bayi baru lahir ada di sini.Dia betah berlama-lama di sana untuk melihat-lihat pakaian bayi yang lucu. Tapi dia menahan napas saat melihat label harga.Akhirnya Sera menaruh kembali pakaian yang barusan dia pegang, ke tempat semula. Sera lebih memilih pakaian satu set yang berisi lima, itu jauh lebih rendah harganya daripada baju sebelumnya.“Ayo, Mas, kita cari yang lain.”“Aku pilih yang ini.” Raven mengambil dua stel pakaian yang tadi Sera pegang, yang harganya sangat mahal, dan memasukkannya ke troli.“Mas, lebih baik yang ini saja.” Sera menunjuk lima pakaian yang tadi dia ambil.“Iya, itu juga ambil.”“Tapi yang itu nggak perlu.”Raven menggeleng. “Aku ingin memberi yang terbaik buat anak-anak kita.”Sera mengatupkan bibirnya dan tidak bisa membantah lagi kalau Raven sudah bilang begitu. Akhirnya Sera melanjutkan langkahnya lagi, melihat-lihat pakaian yang lain.Tapi Sera s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status