Air mata mulai menggenang lagi. Kelelahan, rasa bersalah, ketakutan, dan kerinduan akan kenyamanan yang dia tawarkan—semuanya membanjir."Dia... dia memintaku sesuatu," bisikku, dengan suara hampir hilang."Meminta apa?"Aaron bertanya, sedikit mendesak. Aku memutar tubuhku, akhirnya menatapnya. Di kegelapan, wajahnya tampak keras, namun rapuh. Seperti benteng yang retak."Dia bilang... 'jauh dari dia'. Dan dia yang di maksud ibu itu... kamu, Aaron." Kata-kata itu akhirnya meluncur, seperti racun yang dikeluarkan dari luka. "Dia bilang, 'jaga keluarga'."Sekejap. Hanya itu yang dibutuhkan untuk mengubah ekspresinya. Kekerasan itu retak, pecah, dan di baliknya terlihat sebuah kepedihan yang begitu dalam, begitu telanjang, sehingga aku ingin menarik kembali kata-kataku. Dia terlihat seperti anak kecil yang baru saja dihukum untuk sesuatu yang tidak dilakukannya.Dia memalingkan wajah, menatap ke kegelapan taman. Rahangnya mengeras."Begitu," gumamnya, suaranya hampa. "Jadi itulah ya
Last Updated : 2025-12-31 Read more