“Minum dulu. Jangan sampai kamu sakit hanya karena memikirkan hal-hal yang tidak perlu," ucapnya lagi, saat Sherry tak menjawab. Nada suaranya lembut, perhatiannya terasa nyata. Bagi siapa pun yang melihat, ia tampak seperti pria yang benar-benar peduli. Namun di balik itu, ada sesuatu yang berbeda. Tatapan Jayden berubah saat Sherry tidak melihat. Tipis, dingin, dan tanpa emosi. Muak. “Masih sama saja…” gumamnya dalam hati. Tangannya menyentuh cangkirnya sendiri, bukan untuk minum, melainkan sekadar mengalihkan rasa kesal yang muncul begitu saja. Di depannya, Sherry masih terlihat seperti dulu. Cantik, tenang, dan tanpa sadar. Tanpa sadar bagaimana keberadaannya pernah menghancurkan seseorang. Pikiran itu membawa Jayden kembali ke masa lalu. Ruang kelas yang ramai dengan suara tawa mahasiswa terasa begitu hidup. Namun di tengah semua itu, ada satu sosok yang berbeda. Seorang gadis duduk di sudut, diam dan menunduk, seolah berusaha mengecilkan dirinya sendiri agar ti
اقرأ المزيد