LOGINSuasana di ruangan Rasya dingin dan tegang. AC disetel ke suhu terendah.
Rasya duduk di balik mejanya, kemeja putihnya sudah tidak memakai dasi, lengan digulung sampai siku. Di hadapannya, Raka meletakkan sebuah dokumen tebal dengan stempel "URGENT"."Likuidasi saham Blue Chip Bapak di Singapore sudah disetujui. Dana tunai masuk ke rekening penampungan 10 menit yang lalu," lapor Raka, suaranya terdengar lelah tapi profesional.Rasya tidak tersenyum. Ia mengambil pulpen Montblanc-nya, lalu menandatangani dokumen transfer itu dengan goresan tegas dan cepat."Pecah transaksinya jadi tiga termin supaya tidak mentrigger alarm bank sentral Eropa," perintah Rasya tanpa keraguan."Baik, Pak. Dan pihak 'The Greatest'?""Mereka minta uang muka 50% cair hari ini sebelum jam 12 siang waktu London. Atau pesawat kargonya batal terbang."Rasya menatap Raka tajam."Pastikan uang itu sampai. Aku tidak mau dengar alasan 'sisteSuasana di Private Lounge itu hening dan dingin, kontras dengan gemuruh di kepala Rasya. Hanya terdengar denting sendok teh yang beradu dengan piring kecil dan suara ketikan agresif di laptop.Rasya duduk di sofa kulit hitam, berkas-berkas logistik berserakan di meja marmer di hadapannya. Raka berdiri di sampingnya, tablet di tangan, wajahnya tegang seolah baru melihat hantu."Pesawat kargo dari London sudah standby di Heathrow, Pak," lapor Raka dengan suara rendah, takut terdengar staf lounge."Tapi ada masalah baru. Intel saya bilang, Imigrasi Prancis di Le Bourget mendadak memperketat pemeriksaan untuk penerbangan non-komersial minggu ini. Isu terorisme."Rahang Rasya mengeras. Tangan kanannya berhenti memutar pulpen Montblanc-nya."Seberapa ketat?" tanya Rasya dingin tanpa menoleh."Sangat ketat. Mereka memeriksa manifes penumpang satu per satu. Kalau mereka melihat 20 warga negara Inggris tanpa visa kerja masuk dengan pesawat carteran..."Raka tidak melanjutkan kalimatnya
Pintu kamar utama terbuka pelan.Rasya melangkah masuk dengan langkah gontai. Tubuhnya terasa remuk redam setelah seharian bergelut dengan logistik dan mafia. Niatnya hanya satu: membersihkan diri, tidur sejenak, lalu bangun pagi-pagi sekali untuk menjemput Aurora di paviliun rumah mertuanya.Ia menatap ranjang King Size yang gelap itu dengan tatapan nanar. Ia sudah siap mental untuk tidur sendirian lagi malam ini.Namun, langkah Rasya terhenti mendadak.Matanya menyipit, menembus keremangan cahaya bulan yang masuk dari celah tirai. Ada gundukan selimut di sana.Jantung Rasya berdesir hebat.Di atas ranjang, Aurora tertidur meringkuk memeluk guling. Napasnya teratur, namun ada sisa guratan lelah di wajah cantiknya yang terkena bias cahaya bulan. Rambutnya berantakan menutupi bantal.Rasya terpaku di tempatnya. Rasa tak percaya dan lega bercampur aduk memenuhi dadanya hingga terasa sesak.Aurora pulang.
Suasana di ruangan Rasya dingin dan tegang. AC disetel ke suhu terendah.Rasya duduk di balik mejanya, kemeja putihnya sudah tidak memakai dasi, lengan digulung sampai siku. Di hadapannya, Raka meletakkan sebuah dokumen tebal dengan stempel "URGENT"."Likuidasi saham Blue Chip Bapak di Singapore sudah disetujui. Dana tunai masuk ke rekening penampungan 10 menit yang lalu," lapor Raka, suaranya terdengar lelah tapi profesional.Rasya tidak tersenyum. Ia mengambil pulpen Montblanc-nya, lalu menandatangani dokumen transfer itu dengan goresan tegas dan cepat."Pecah transaksinya jadi tiga termin supaya tidak mentrigger alarm bank sentral Eropa," perintah Rasya tanpa keraguan."Baik, Pak. Dan pihak 'The Greatest'?""Mereka minta uang muka 50% cair hari ini sebelum jam 12 siang waktu London. Atau pesawat kargonya batal terbang."Rasya menatap Raka tajam."Pastikan uang itu sampai. Aku tidak mau dengar alasan 'siste
"Aurora? Ini Bunda, Sayang."Aurora panik. Ia buru-buru mengambil kacamata bacanya (untuk menutupi mata bengkak), merapikan baju kusutnya, dan memasang wajah "sibuk"."Masuk, Bun! Nggak dikunci!" seru Aurora. Ia buru-buru bangkit dari lantai, menyambar meteran kain, dan berpura-pura sedang mengukur bahu manekin.Pintu terbuka. Martha masuk membawa nampan berisi teh hangat dan pisang goreng madu kesukaan Aurora.Mata tajam Martha langsung menyapu ruangan, lalu berhenti pada wajah putrinya. Sebagai ibu, ia tahu persis mata itu habis menangis. Tapi ia ingat pesan suaminya tadi pagi: Jangan diinterogasi. Rasya sudah izin."Bunda liat dari jendela dapur kok tirai paviliun kebuka," ujar Martha santai, meletakkan nampan di meja. "Kirain hantu, ternyata anak gadis Bunda.""Hehe, iya Bun..." Aurora tertawa canggung, menghindari kontak mata. "Kaget ya?""Sedikit," Martha duduk di sofa kecil, menatap Aurora lembut.
Rasya menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya yang berat. Uang aman. Paris aman.Tapi kata-kata terakhir ayahnya menghantuinya. Rumah yang tenang.Rasya melirik jam tangan. Pukul 17.00.Ia menyambar kunci mobil dan jasnya. Ia harus pulang. Ia harus memeluk Aurora dan menjelaskan bahwa semuanya sudah terkendali.Mobil sedan Rasya menderu masuk ke garasi rumah baru mereka.Rumah itu gelap.Hanya lampu taman dan lampu teras yang menyala otomatis. Tidak ada cahaya hangat dari ruang tengah maupun kamar tidur utama di lantai dua.Jantung Rasya berdetak tidak enak.Ia membuka pintu utama dengan fingerprint."Aurora?" panggil Rasya saat melangkah masuk.Hening.Suara langkah kakinya menggema di lantai yang dingin. AC sentral menyala, membuat udara terasa dingin menusuk tulang."Baby? Aku pulang."Tidak ada jawaban. Tidak ada aroma masakan. Tidak ada suara TV.
Di dalam mobil kantor yang hening, Aurora duduk termenung. Pak Ruslan, sopir pribadi Rasya, sesekali melirik cemas lewat spion tengah tapi tidak berani bertanya.Kalimat Rasya terngiang di kepala Aurora: "Pulanglah ke rumah kita."Tapi, untuk saat ini Aurora tidak sanggup. Rumah mereka itu penuh dengan jejak Rasya. Penuh dengan mimpi-mimpi yang kini terasa seperti beban bagi suaminya.Ia butuh napas. Ia butuh tempat di mana ia bisa menjadi Aurora, bukan Nyonya Pradana."Pak Ruslan," panggil Aurora memecah keheningan. "Putar balik di depan. Kita ke rumah orang tua saya saja."Pak Ruslan tampak terkejut, matanya menatap spion. "M—maaf, Bu. Tapi perintah Pak Rasya tadi tegas. Ibu harus langsung diantar ke rumah di Seruni. Saya nggak berani melanggar, Bu.""Saya tahu..." Aurora mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, suaranya memelas. "Tapi tolong saya, Pak. Bapak cukup antar saya. Kalau Mas Rasya marah, bilang saya yang memaksa Bapak. Saya janji Pak Ruslan aman."Hening sejenak.







