Share

125.

Author: Bintangjatuh
last update publish date: 2025-12-31 15:00:17

​"Aurora? Ini Bunda, Sayang."

Aurora panik. Ia buru-buru mengambil kacamata bacanya (untuk menutupi mata bengkak), merapikan baju kusutnya, dan memasang wajah "sibuk".

​"Masuk, Bun! Nggak dikunci!" seru Aurora.

Ia buru-buru bangkit dari lantai, menyambar meteran kain, dan berpura-pura sedang mengukur bahu manekin.

​Pintu terbuka. Martha masuk membawa nampan berisi teh hangat dan pisang goreng madu kesukaan Aurora.

​Mata tajam Martha langsung menya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   185.

    Rasya melangkah mendekat. Ujung sepatu kulit mahalnya kini berhenti tepat di depan wajah Dio yang tersungkur. Rasya perlahan berjongkok dengan satu lutut, menyejajarkan posisinya dengan pria itu. Rasya menatap mata Dio yang dipenuhi keputusasaan dan amarah itu lekat-lekat. Seringai iblis kembali terbit di wajah tampannya, menyadari betapa menyedihkannya taktik manipulasi pria ini. "Kau pikir, dengan memancing emosiku dan menodai masa lalu istriku, aku akan kehilangan kendali dan langsung menembak kepalamu di sini?" Rasya terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar mengerikan. "Kau terlalu meremehkanku, Dio." Rasya mencondongkan wajahnya, aura dominasinya menekan paru-paru Dio hingga pria itu kesulitan bernapas. "Kau tahu kenapa kau masih bernapas detik ini?" bisik Rasya di depan wajah Dio. "Karena sebelum aku terbang ke sini, istriku yang sedang mengandung anakku menatap mataku, dan dia memintaku untuk tidak m

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   184.

    Otak Dio terasa lumpuh. Bagaimana bisa? Bukankah Rasya Pradana seharusnya berada di Paris? Mengapa pria ini tiba-tiba sudah berada di dalam kamar tidurnya?!Senyum miring yang kejam terbit di bibir Rasya, seolah mampu membaca seluruh isi kepala pria menyedihkan di hadapannya.Dio tidak tahu, bahwa belasan jam yang lalu di Paris, nasibnya telah disegel oleh predator puncak ibu kota.Saat Rasya menghubungi Damar kemarin, sang sahabat tidak hanya menemukan blind spot di basement, tetapi juga mengenali sejarah rumah itu."Aku tahu rumah ini, Sya," ucap Damar. "Ini milik kenalan lama ayahku. Pintu masuk ruang rahasia itu bukan di bawah, melainkan tersembunyi di balik walk-in closet kamar utama. Ada apa sebenarnya?"Alih-alih menjawab pertanyaan Damar, Rasya hanya membalas singkat, "Nanti aku jelaskan. Waktuku tidak banyak, Damar."Detik itu juga, Rasya merasa harus mengeksekusi Dio dengan tangannya sendiri, namun ia tidak akan pernah meninggalkan

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   183.

    Dio menyambar tas ransel berisi uang tunai yang sudah ia siapkan, lalu berlari secepat kilat menuju walk-in closet di sudut kamarnya.Tangannya meraba ke balik deretan jas mahalnya, lalu menekan sebuah panel kayu tersembunyi di bagian paling sudut lemari. Terdengar bunyi klik pelan, disusul oleh dinding rak sepatu yang bergeser memutar ke dalam, menampilkan sebuah celah lorong gelap dan sempit.Tanpa berpikir dua kali, Dio menyusup masuk. Rak itu kembali menutup otomatis tepat beberapa detik sebelum suara hantaman keras menghancurkan engsel pintu kamar.Di dalam lorong sempit yang pengap itu, Dio menahan napasnya. Ia mendengar dengan jelas segala yang terjadi di kamar utama, sebelum akhirnya ia menuruni anak tangga curam yang terhubung langsung ke ruang rahasia di balik dinding pemanas basement.Di sanalah ia bersembunyi. Duduk meringkuk di sudut kegelapan bunker, menggigil ketakutan hingga ia mendengar sayup-sayup deru mobil-mobil itu men

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   182.

    "Tumben sekali bro menelepon di jam sibuk. Ada gedung saingan yang mau gue ratakan dengan tanah?"Sudut bibir Rasya berkedut samar mendengar pertanyaan itu. Damar Aritama. Sahabat masa kecil sekaligus partner bisnisnya, dia adalah penguasa takhta industri konstruksi dan arsitek paling andal di Asia. "Gue butuh bantuan lo, Damar," ucap Rasya to the point. "Raka baru aja menggerebek sebuah rumah di kawasan elite Jakarta Utara." "Dan lo mau gue apain rumah itu?" kekeh Damar di seberang sana. "Gue udah kirim alamat dan salinan dokumen rumah itu ke server pribadi lo," Rasya mengabaikan candaan sahabatnya, nadanya berubah serius. "Target gue berhasil meloloskan diri, Damar. Dia sangat licik. Gue butuh lo membedah struktur rumah itu sampai ke akar fondasinya. Temukan di mana bajingan itu bisa menyimpan aset, atau... menyembunyikan dirinya sendiri." Terdengar helaan napas dari Damar. Suara ayunan tongkat golf berhenti sepenuhnya. "Beri gu

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   181.

    Semburat merah sunrise mulai merekah di ufuk timur ibu kota, mengusir kepekatan malam. Namun, cahaya pagi itu tak mampu menembus aura gelap yang menyelimuti ruang kerja Raka di lantai teratas Aetherion Tower.Asisten kepercayaan Rasya Pradana itu berdiri membelakangi meja kerjanya, menatap lanskap kota Jakarta yang mulai terbangun dari balik dinding kaca raksasa. Kemeja hitamnya masih rapi, namun sorot matanya memancarkan kelelahan dan ketegangan. Raka sama sekali belum memejamkan mata sejak semalam.Suara ketukan pelan terdengar sebelum pintu ruangan terbuka. Dean melangkah masuk dengan raut wajah kaku dan kepala sedikit menunduk."Laporan," tuntut Raka tanpa repot-repot membalikkan badannya."Nihil, Pak," jawab Dean berat, menahan napas sejenak sebelum melanjutkan kabar buruk itu. "Mereka sudah menyisir seluruh sudut kota semalaman suntuk. Tapi target seolah menguap ke udara."Raka akhirnya berbalik. Alisnya menuki

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   180.

    Waktu di Paris menunjukkan pukul lima sore. Rasya sedang berada di ruang kerjanya, sementara di kamar utama yang terletak tak jauh dari sana, Aurora tengah terlelap damai setelah terkuras emosinya siang tadi. Rasya berdiri menghadap jendela kaca, menatap langit sore Paris dengan segelas French Bloom di tangan kirinya. Pikirannya masih dipenuhi oleh janji berat yang baru saja ia buat kepada Aurora. Getaran pelan dari ponsel di atas meja kerja memecah keheningan. Rasya meletakkan gelasnya dan meraih ponsel itu. Sesuai dugaannya, panggilan berasal dari asisten kepercayaannya. Di belahan bumi lain, langit Jakarta sudah diselimuti kepekatan malam. Rasya menekan tombol terima dan mendekatkan benda pipih itu ke telinganya. "Ya, Raka." "Selamat sore, Pak," sapa Raka dari seberang telepon. Suaranya terdengar jernih, membawa aura kemenangan yang dingin. "Insting Bapak sama sekali tidak meleset. Leonil sudah buka suara. Dalang di balik penyerangan Nyonya Aurora di Paris memang Dio Anggara.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status