Sembilan bulan kemudian.Matahari menyinari ruang bersalin yang terang dan segar. Bau bunga melati memenuhi udara, menggantikan bau obat yang dulu membuat Aira merasa mual. Leonard berdiri di samping ranjang, menggenggam tangannya sekuat tenaga, matanya tidak pernah meninggalkan wajahnya yang dipenuhi keringat karena nyeri bersalin.“Sudah tinggal sedikit lagi, Mbak Aira!” panggil bidan dengan senyum memihak. “Dorong lagi, ya!”Aira mengerang, tubuhnya menggigil. Dia memandang Leonard, yang melihatnya dengan mata penuh cinta dan dukungan. “Leon… aku tidak tahan lagi…”“Kamu bisa, sayang. Kamu pejuang. Bayi kita menunggu di luar.” Leonard mencium dahinya dengan lembut. “Aku ada di sini. Selalu.”Dengan satu dorongan terakhir yang sekuat tenaga, suara tangisan bayi yang merdu terdengar di ruangan itu. Terang, nyaring, penuh kehidupan. Bidan mengambil bayi itu, membersihkannya dengan cepat, lalu membawanya ke Aira.“Anak laki-laki, Mbak. Sehat dan segar!”Aira menangis terisak-isak, air
Last Updated : 2025-12-30 Read more