Sore itu udara terasa lebih lembap dari biasanya, seolah udara bumi mau menelan segala sesuatu. Langit kelabu menggantung rendah, tebal seperti kain hitam yang siap menjepit, membuat halaman belakang rumah Leonard tampak lebih sunyi dan menakutkan dari biasanya. Tidak ada suara burung, tidak ada angin yang lembut — cuma keheningan yang menekan. Aira berdiri di dapur, jari-jari dia mengikat kantong sampah hitam dengan rapi. Isinya tidak banyak, sisa daun bawang yang layu, bungkus roti yang kosong, dan beberapa tisu yang basah. Saat dia hendak melangkah keluar ke halaman belakang, Bik Minah, asisten rumah tangga yang paruh baya, menghentikannya dengan tangan yang cepat. “Mbak Aira, biar bibik saja!” ujarnya cepat, matanya khawatir. “Tuan Leonard pesan kemarin, Mbak jangan capek-capek. Sampah sebesar itu bisa nanti malam bibik buang sendiri.” Aira tersenyum kecil, tangannya menyentuh bahu Bik Minah untuk menenangkannya. “Gak apa-apa, Bik. Ini cuma sekantung kecil kok , tidak berat
Last Updated : 2025-12-26 Read more