INICIAR SESIÓNLampu kristal menggantung di langit-langit aula.Musik klasik mengalun lembut, mengisi sela-sela denting gelas sampanye dan tawa basa-basi para tamu. Hari ini adalah perayaan hari jadi Adikara Group.Sebuah acara yang menjadi simbol kejayaan.Dewan, investor, dan tokoh penting berkumpul di tempat ini.Aku berdiri di samping Tama. Tangannya melingkar pelan di pinggangku, tak lepas sejak sore tadi.Tak banyak yang kulakukan disini.Aku hanya tersenyum tipis setiap kali seseorang menyapa, lalu kembali mendengarkan Tama berbicara dengan rekan bisnisnya. Beberapa menit kemudian, Tama menoleh padaku. “Aku harus menyapa dewan di sebelah sana,” katanya pelan, “kau mau ikut?”Aku menggeleng kecil. “Pergilah. Aku di sini.” “Hanya sebentar,” katanya Ia melepaskan tangannya dari pinggangku, memberiku anggukan singkat, lalu melangkah menjauh.Aku menepi, berdiri di sisi ruangan, tak jauh dari tempatku tadi.Aku mengambil gelas minuman dari nampan pelayan yang lewat.Dari tempatku berdiri, aku
Mobil melaju pelan di jalan yang cukup ramai.Warna keemasan langit kini berganti menjadi keunguan, lalu secara perlahan menjadi gelap.Lampu-lampu kota lewat bergantian di kaca jendela, memantul sebentar lalu hilang.Aku tidak tahu sudah berapa lama kami diam.Tak ada yang membuka percakapan sejak kami masuk ke dalam mobil.Tama menyetir dengan satu tangan, yang lain bertumpu ringan di setir bagian bawah.Pandangannya lurus ke depan. Seperti biasa.Tapi ada sesuatu yang berbeda darinya.Bukan tegang. Bukan marah. Sesuatu yang sulit kujelaskan, namun dapat kurasakan.Beberapa kali ia ingin mengatakan sesuatu.Aku bisa menangkap jeda kecil di napasnya.Lalu ia mengurungkannya lagi.“Apa yang ingin kau katakan?” tanyaku akhirnya.Tama tak menjawab pertanyaanku.Matanya tak melirikku sama sekali.Suasana kembali hening.Hanya terdengar suara mesin halus dan beberapa klakson dari luar sana.Aku tak menunggu jawabannya, membiarkannya tenggelam dalam pikirannya sendiri.“Apa yang kau pikir
Damian sudah pergi beberapa menit yang lalu.Aku masih disini, sibuk memperhatikan jalanan yang lebih ramai dari sebelumnya.Kafe mulai sedikit lebih lengang setelah beberapa meja kosong ditinggalkan pemiliknya.Suara mesin kopi masih terdengar, tapi tak lagi sepadat sebelumnya.Sinar sore bergeser perlahan di lantai, memanjang sampai mendekati kakiku.Cokelat panas di hadapanku sudah hampir dingin.Aku mengaduknya tanpa benar-benar berniat meminumnya.Beberapa menit kembali berlalu.Lalu aku berkata pelan, hampir tanpa menggerakkan bibir.“Haruskah kau bersikap seperti itu.”Tak ada jawaban.Aku menarik napas pendek, lalu meraih serbet kertas di sisi piring.Serbet itu kuangkat setengah menutupi bagian bawah wajahku, seolah hanya ingin membersihkan sudut bibir.“Aku tahu kau mendengarku, Tama.”Suara langkah seseorang melintas di belakangku. Kursi bergeser. Pintu kaca terbuka lalu tertutup kembali.Tetap tak ada jawaban.Aku menunggu.Beberapa detik kemudian, suara yang sangat kuken
Kafe di persimpangan jalan ini tak terlalu ramai. Beberapa meja terisi oleh orang-orang yang sibuk dengan layar laptop, sebagian lain sibuk berbicara sambil sesekali tertawa singkat. Aroma kopi dan roti panggang menggantung tipis di udara.Aku memilih meja di dekat jendela.Dari sini, pintu masuk terlihat jelas tanpa perlu menoleh terlalu sering. Aku menoleh ke luar.Jalanan terlihat sibuk– seperti biasa. Kendaraan melintas, orang-orang berjalan cepat. Pelayan datang membawa segelas cokelat panas. Aku mengangguk terima kasih.Jam di dinding menunjukkan pukul tiga lewat tiga menit.Ia belum datang.Dan aku tak keberatan menunggu.Beberapa menit kemudian, pintu kaca terbuka.Aku tidak perlu memastikan dua kali.Langkahnya tetap sama. Terukur. Tidak tergesa. Tidak juga dibuat lambat. Map tipis selalu ada di tangannya, seolah benda itu memang menjadi bagian dari dirinya.Ia melihatku, lalu mengangguk kecil sebelum mendekat.“Nyonya.”“Pak Damian.”Ia menarik kursi di seberangku dan
Aku mengetuk pelan sebelum membuka pintu ruang kerja Tama.Biasanya sekretarisnya akan lebih dulu memberi tahu jika ia sedang di dalam atau tidak.Tapi hari ini lorong terasa lebih sibuk dari biasanya. Beberapa orang berlalu-lalang membawa map, suara telepon terdengar dari ruangan lain.Pintu terbuka.Tama berdiri di dekat meja kerjanya. Jasnya disampirkan di bahu kursi. Lengan kemejanya tergulung sampai siku.Ia menoleh cepat ketika melihatku.“Kau sudah kembali,” nada suaranya terdengar lebih seperti pernyataan daripada sapaan.Aku menutup pintu di belakangku.“Bukankah kau ada rapat?”“Ada,” jawabnya singkat.Aku mengangkat alis. “Lalu?”“Tidak penting.”Aku berjalan menuju sofa, lalu duduk membelakangi Tama.Tak lama, ia mendekat. Seolah menyadari bahwa ia berdiri terlalu jauh sejak tadi.“Kau berhasil bertemu dia?”Langsung. Tanpa pembuka. Tanpa basa-basi.Aku meletakkan kotak makan siang di atas meja. “Ya.”“Benarkah?” tanyanya lagi.Aku mengangguk.“Dan?”“Apa?”“Kau sempat b
Aku tiba beberapa menit lebih awal dari yang seharusnya.Tama sudah lebih dulu tiba di kantor, katanya ia akan menghadiri rapat pagi hari.Kantor ini selalu terasa sama.Lobi luas dengan lantai marmer mengilap, suara langkah kaki yang bersahutan, dan denting lembut pintu putar yang tak pernah benar-benar berhenti bergerak. Aroma kopi dari kafe kecil di sudut ruangan bercampur dengan wangi pendingin ruangan yang terlalu dingin.Koridor menuju deretan lift tampak cukup ramai. Beberapa staf berdiri berkelompok sambil berbicara pelan, sebagian lain menatap layar ponsel mereka. Aku memilih berdiri sedikit menjauh, di sisi dinding kaca yang menghadap ke kota.Pantulan diriku terlihat samar di sana. Tenang. Tidak terburu-buru.Aku melirik jam di pergelangan tangan.Tama bilang, Damian akan datang sekitar pukul sepuluh.Dan jika perkiraanku tidak meleset, ia akan lewat dalam beberapa menit.Pintu lift di ujung koridor terbuka. Beberapa orang keluar. Yang lain masuk. Angka digital di atas







