Share

BAB CVII

Auteur: Shine
last update Date de publication: 2026-03-15 22:24:10

Aku tiba beberapa menit lebih awal dari yang seharusnya.

Tama sudah lebih dulu tiba di kantor, katanya ia akan menghadiri rapat pagi hari.

Kantor ini selalu terasa sama.

Lobi luas dengan lantai marmer mengilap, suara langkah kaki yang bersahutan, dan denting lembut pintu putar yang tak pernah benar-benar berhenti bergerak.

Aroma kopi dari kafe kecil di sudut ruangan bercampur dengan wangi pendingin ruangan yang terlalu dingin.

Koridor menuju deretan lift tampak cukup ramai.

Beberapa staf berd
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB CXIX

    Semua masih duduk dengan posisi yang sama.Punggung tegak. Tangan bertumpu ringan di atas meja.“Kalau itu tuduhanmu,” kata Damian,, “kau harus siap dengan konsekuensinya.”Nada suaranya tetap tenang. Bahkan lebih tenang dari sebelumnya.Aku tidak menjawab.Karena untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu.“Kau berbicara tentang arah,” lanjutnya, matanya berpindah dari Tama… lalu kembali padaku. “Seolah semua yang terjadi ini adalah sesuatu yang bisa kau petakan dengan mudah.”Aku tidak memotongnya.Aku ingin tahu… sejauh mana ia akan melangkah.“Padahal,” lanjut Damian, “ada hal-hal yang tidak pernah benar-benar kau pahami sejak awal.”“Sejak awal?” ulangku pelan.Damian tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan punggungnya sedikit, seperti seseorang yang mulai melepaskan jarak yang selama ini ia jaga.“Wasiat itu,” katanya, “tidak pernah dimaksudkan untuk sekadar memindahkan kepemilikan.”Hening.Aku bisa merasakan fokus semua orang di meja ini berpindah—pelan, tapi pasti—ke ara

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB CXVIII

    Lampu gantung di atas meja memantulkan cahaya yang sama.Tidak ada yang berubah.Kecuali suasananya.Udara di meja itu terasa berbeda sekarang.Lebih padat. Lebih berat.Tak ada yang langsung berbicara setelahnya. “Atau mungkin,” ucap Tama pelan, “kau hanya terbiasa berada di posisi itu terlalu lama.”Nada suaranya tetap datar. Tidak menekan. Tidak juga menuduh.Damian menyandarkan punggungnya ke kursi. Gerakannya tenang.“Membuat sesuatu tetap berjalan dengan benar bukanlah sebuah kesalahan.”“Benar menurut siapa?” sahut Miranda.Tidak ada jeda kali ini.Damian menoleh sedikit ke arahnya. “Menurut orang yang membangunnya sejak awal.”Miranda tersenyum tipis.“Jangan membawa nama Ardian untuk membenarkan keputusanmu sendiri.”Hening.Aku bisa melihat perubahan kecil di wajah Damian.Baru kali ini aku melihatnya terganggu.Tama tidak memotong.Ia justru memberi ruang, membiarkan Damian berbicara lebih jauh.“Aku mengenalnya lebih lama dari kalian semua di meja ini,” kata Damian akh

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB CXVII

    Tak ada yang langsung berbicara setelah itu.Tak ada pula yang mengalihkan perhatian.Miranda masih menatap Damian.Tatapannya datar, tapi terlalu lama untuk disebut biasa.Seolah ia sedang memastikan sesuatu yang sebenarnya sudah ia ketahui.“Aku sempat berpikir,” katanya akhirnya, “kau hanya sulit menerima perubahan.”Nada suaranya ringan. Hampir santai.Damian tidak menjawab.“Aku memberimu waktu,” lanjut Miranda.“Lebih dari yang seharusnya.”Tangannya bergerak mengambil gelas, lalu menyesap sedikit.Tenang. Terukur.“Karena aku menghargai apa yang pernah kau lakukan untuk Ardian.” Nama itu jatuh pelan di antara kami.Damian tetap diam.“Tapi rupanya,” lanjut Miranda, “kau tidak pernah benar-benar berhenti.”Kalimat itu tidak terdengar seperti tuduhan.Lebih seperti kesimpulan.Aku menahan napas sebentar.Tama tidak bergerak.Namun aku bisa merasakan fokusnya kini sepenuhnya tertuju pada Damian.“Aku tidak yakin maksudmu,” kata Damian akhirnya.Miranda tersenyum tipis.“Tidak pe

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB CXVI

    Hidangan utama sudah hampir habis ketika suasana di meja mulai berubah.Bukan karena suara. Bukan juga karena kata-kata yang diucapkan.Tapi karena jeda di antaranya.Percakapan kembali berjalan.Tentang angka. Tentang laporan. Tentang rencana jangka pendek.Tama belum banyak bicara sejak beberapa menit terakhir.Ia hanya sesekali merespons, seperlunya.Namun justru itu yang membuatku menyadari sesuatu.Ia sedang menunggu.Miranda menyeka bibirnya dengan serbet, lalu meletakkannya kembali di pangkuan.Gerakannya tenang. Terukur.“Aku rasa,” katanya akhirnya, “kita tidak diundang ke sini hanya untuk membicarakan laporan triwulan.”Aku meletakkan garpu perlahan.Suara kecilnya terdengar lebih jelas dari seharusnya.Tama mengangkat pandangannya.“Benar,” jawabnya.Sederhana. Tanpa penekanan.Namun cukup untuk mengubah arah meja itu sepenuhnya.Hening.Hans sedikit menggeser duduknya.Damian tetap tenang. Tangannya bertumpu ringan di atas meja, seolah ia sudah menunggu kalimat itu sejak

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB CXV

    Ruang makan utama sudah disiapkan sejak sore tadi.Meja panjang dengan taplak berwarna gelap terbentang rapi di tengah ruangan. Lampu gantung di atasnya memantulkan cahaya hangat. Aku berdiri di ujung meja, memastikan posisi gelas dan piring sudah sejajar.Semua tampak sempurna. Terlalu sempurna.Suara langkah kaki terdengar dari belakang.“Aku sudah memastikan semuanya,” kata Tama.Aku mengangguk tanpa menoleh.“Kau siap?” tanyanya.Aku merapikan satu sendok yang sebenarnya sudah lurus.“Seharusnya aku yang bertanya padamu.”Tama tidak menjawab.Aku akhirnya menoleh.Ia berdiri beberapa langkah di belakangku, mengenakan kemeja gelap tanpa jas. Lebih santai dari biasanya, tapi tetap terlalu rapi untuk disebut santai.“Kau tahu mereka tidak akan datang tanpa persiapan,” katanya.“Aku tidak mengharapkan mereka datang tanpa tujuan,” jawabku.Hening sebentar.“Tapi setidaknya,” lanjutku, “ini bukan panggung mereka.”Tatapan Tama tertuju padaku beberapa detik. Lalu ia mengangguk kecil.

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB CXIV

    Tama sudah berada di tempat tidur ketika aku keluar kamar mandi.Aku menutup pintu kamar mandi perlahan, membiarkan uap air tertinggal di belakangku. Kamar sudah gelap, hanya menyisakan satu lampu di sisi ranjang yang menyala redup.Tama bersandar pada kepala ranjang, membaca majalah bisnis yang baru terbit hari ini.Kakinya sedikit ditekuk, buku terbuka di tangannya. Wajahnya tenang seolah hari ini tidak berbeda dari hari-hari lain.Di sana, aku duduk diam selama beberapa saat. Aku memperhatikan pantulan wajahku di cermin, mencoba menghilangkan sisa ketegangan dari aula tadi sebelum akhirnya aku menyalakan lampu kecil di depanku.Percakapan kami di ruang tamu masih berputar di kepalaku.Tentang Damian. Tentang Hans.Tentang kemungkinan bahwa selama ini ada seseorang yang tidak pernah benar-benar meninggalkan permainan.Aku menatap cermin sebentar.Kuliriik bayangan Tama yang terlihat samar. “Kau masih memikirkannya?” tanya Tama tanpa menoleh padaku.“Ya,” jawabku cepat.Ia tidak me

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status