Malam itu angin laut bertiup lebih kencang dari biasanya, membawa desau yang berat, seperti sedang menggedor dada Alessia.Dia terbangun dari tidurnya dengan napas terputus-putus, kulitnya basah oleh keringat dingin, dan jantung berdebar seakan mencoba merobek tulang rusuknya.Mimpi itu datang lagi, mimpi tentang suara tembakan yang membabibuta menghantam ayahnya.Panik menelannya mentah-mentah. Alessia meraba dadanya, tapi tekanan itu tidak mereda.Dia butuh udara.Dengan langkah gemetar, dia keluar dari kost dan berjalan tanpa arah, hanya mengikuti insting untuk mencari ruang terbuka.Tanpa sadar, dia tiba di pinggir pantai yang gelap, hanya diterangi lampu-lampu jalan dari kejauhan. Ombak pecah berkali-kali, tapi suara itu justru menambah pusingnya.Alessia terduduk di pasir. Bahunya naik turun, napasnya serak, dan matanya berair.“Tidak, tidak lagi, tolong berhenti,” bisiknya pada tubuhnya sendiri.Tapi panic attack tidak pernah mendengarkan permintaan seseorang.Di sisi lain jala
Terakhir Diperbarui : 2025-12-12 Baca selengkapnya