Ruang itu tetap gelap. Avelinne tidak tahu apakah malam telah berlalu—atau hanya berhenti bergerak. Tangannya bergeser ke perutnya, refleks yang datang tanpa izin. Ia menahan napas ketika nyeri samar menjalar, tipis namun nyata, lalu perlahan mereda. “Bertahan,” bisiknya—bukan pada dirinya, melainkan pada sesuatu yang belum berani ia namai. Di luar, terdengar suara besi beradu pelan. Bukan Garrick. Avelinne memejamkan mata. Tidak ada lagi tenaga untuk berjaga, tidak ada alasan untuk berharap. Tubuhnya menyerah sedikit demi sedikit, hingga akhirnya ia terbaring di lantai batu yang dingin. Jika ia harus hilang di tempat ini, setidaknya bukan semuanya yang ikut lenyap. Lalu gelap itu menutupnya—perlahan, tanpa janji akan dibuka kembali. **** Mobil melaju. Hujan tipis menyapu kaca depan, meninggalkan garis-garis air yang segera terhapus. Sebastian menatap jalan tanpa benar-benar melihatnya. Setiap meter terasa seperti penundaan yang tak termaafkan. Di jok belaka
최신 업데이트 : 2026-01-04 더 보기