Tengah malam merayap pelan di gudang anggur Devereux. Di ruang kantor, Osric menyalakan perapian. Kayu kering berderak pelan, api kecil menjilat batu, menjaga udara tetap hangat—cukup untuk menahan dingin, tidak lebih. Ia tidak bicara. Tidak perlu. Malam seperti ini tidak meminta penjelasan. Di kamar sebelah, lampu minyak menyala redup. Sebastian duduk di kursi di sisi ranjang besi. Kemeja putihnya kusut, lengan tergulung setengah. Tangannya bertumpu di lutut, punggungnya condong sedikit ke depan, seolah jarak beberapa jengkal itu terlalu jauh untuk ditoleransi. Avelinne masih terbaring. Wajahnya pucat, napasnya dangkal namun teratur. Tidak ada tanda ia akan terbangun. Di sisi lain ranjang, Elowen duduk sambil memegangi tangan kakaknya. Matanya setengah terpejam. Sesekali kepalanya terangguk kecil, tertahan sebelum benar-benar jatuh—lelah yang tidak diberi izin untuk menyerah. Sebastian meliriknya. “Elowen,” katanya pelan. “Kalau mengantuk, tidurlah. Biar aku yang berj
최신 업데이트 : 2026-01-06 더 보기