Matahari semakin terik, tapi langkah mereka tidak berhenti. Hutan mulai terbuka. Tanah mengeras di bawah sepatu, ranting dan akar menekan telapak kaki yang sudah mati rasa. Sesekali mereka berpapasan dengan orang-orang yang terburu-buru, dengan gerobak yang berderak di jalan setapak—tak satu pun menoleh. Dunia bergerak dengan ritmenya sendiri, dan mereka hanya bayangan yang lewat tanpa nama. “Kalau mengikuti jalan ini… apakah ada ujungnya?” Suara Elowen tipis, tapi berusaha tetap tegar. Ketakutan diselipkan rapi di sela kata. Avelinne menatap ke depan, mengatur napas. Tubuhnya berat, punggungnya kaku, namun matanya tetap fokus. “Ayah pernah membawaku lewat sini,” katanya pelan. “Kalau kita mengikuti sungai, tak lama lagi ada rumah penduduk.” Mereka melangkah lagi. Cahaya matahari menembus sela dedaunan, menari di kulit mereka yang lelah, menyoroti
Last Updated : 2025-12-24 Read more