Di sudut kota Bordeaux, sebuah kedai tampak seperti biasa. Kursi-kursi kayu terisi. Suara gelas beradu. Beberapa pria minum tanpa tergesa—pekerja, pedagang kecil, wajah-wajah yang sudah lama mengenal rasa anggur murah dan mahal tanpa banyak tanya. Namun pagi itu, ada sesuatu yang bergeser. Di antara mereka, duduk dua pria dengan mantel rapi. Bukan mencolok, tapi terlalu bersih untuk disebut kebetulan. Cara mereka memegang gelas berbeda—tidak meneguk, hanya mencicipi. Tidak berbicara keras. Mendengar. Pemilik kedai menyadarinya, tapi berpura-pura tidak. Ketika Marlowe masuk, ia tidak membawa peti. Hanya satu keranjang kecil. Ia meletakkannya di balik meja. “Ini,” katanya singkat. “Tidak banyak.” Pemilik kedai membuka penutupnya sekilas. Botol-botol tanpa label. Kaca bersih. Tidak ada nama yang bisa diucapkan. Ia menutup kembali keranjang itu, lalu—setelah jeda yang disengaja—menyodorkan sebuah kartu. Kertas tebal. Tinta emas. Nama keluarga yang tidak biasa dibawa
Last Updated : 2026-01-17 Read more