"Saudara Ruslan Wijaya," ucap salah satu polisi, menunjukkan surat penangkapan. "Anda kami tahan atas dugaan berlapis: Penyekapan, Percobaan Pembunuhan Berencana, Penggelapan Aset, dan Pemalsuan Dokumen.""TIDAK! INI JEBAKAN! PENGACARA! LAKUKAN SESUATU!" Ruslan berteriak histeris saat tangannya ditarik dan diborgol.Pengacaranya hanya diam, mundur menjauh, tidak mau ikut terseret kapal karam itu."Mbak Santi! Tolong aku, Mbak! Kita saudara! Darah lebih kental dari air!" raung Ruslan saat diseret keluar.Bu Santi memalingkan wajahnya, menangis dalam diam."Darahmu sudah kotor, Lan," bisik Bu Santi lirih, lebih kepada dirinya sendiri. "Dan air mataku sudah kering untuk membersihkannya."Arka menatap punggung Ruslan yang menghilang di balik pintu, diiringi jepretan kamera wartawan yang sudah menunggu di koridor sesuai rencananya.Arka menghela napas panjang, merasakan beban berat terangkat dari pundaknya. Satu monster tumbang.Dia menatap Nia, lalu mengangguk pelan. Selesai.Seminggu set
Read more