LOGINLantai beton safe house itu terasa dingin menembus sol sepatu pantofel hitam yang kini dikenakan Arka. Suara derap langkahnya bergema di sepanjang lorong sempit yang hanya diterangi lampu neon temaram. Tidak ada lagi langkah kaki yang menyeret atau bahu yang membungkuk rendah. Arka melangkah dengan punggung tegak dan dagu terangkat, memancarkan aura otoritas yang sempat terkubur selama setahun terakhir.Di ujung lorong, Victor dan Anton sudah menunggu di depan sebuah pintu besi berat. Victor berdiri tegak seperti pilar baja, sementara Anton tampak sibuk dengan tablet di tangannya, jemarinya menari lincah di atas layar."Semua sudah siap, Bos," lapor Anton tanpa mengalihkan pandangan. "Berita sudah meledak di semua media nasional. Pihak bursa saham sedang membekukan perdagangan Barata Group karena ketidakpastian manajemen. Narasi tentang pelarian mereka ke luar negeri sudah menjadi konsumsi publik."Arka mengangguk singkat. "Bagus. Buka pintunya."Victor memutar tuas besi dan mendorong
"Anton... ini aku."Suara gemerisik statis dari sambungan telepon terenkripsi itu terhenti selama satu detik, digantikan oleh tarikan napas tertahan dari seberang sana."Pak Arka?" Suara Anton terdengar cepat, memancarkan kelegaan sekaligus kesiagaan profesional tingkat tinggi. "Ada yang bisa saya bantu?""Ya. Ini sangat urgent."Suara bariton Arka memecah keheningan pagi yang masih menyisakan embun.Pria itu berdiri tegap membelakangi dinding kaca floor-to-ceiling yang menampilkan lanskap hijau pepohonan dan siluet Gunung Salak yang diselimuti kabut. Angin sejuk dari pendingin ruangan menyapu kulitnya, sebuah kontras yang sangat ekstrem dibandingkan dengan udara pengap rumah petaknya di Ciloto dua belas jam yang lalu.Singkat cerita, malam itu juga Arka telah membawa keluarganya keluar dari desa tersebut. Ia mengemudikan SUV hitam Victor menembus kegelapan, membelah jalanan puncak hingga akhirnya mereka tiba di salah satu Presidential Suite di sebuah hotel bintang lima paling eksklus
Di dalam rumah petak yang temaram itu, isak tangis Nia perlahan mereda, menyisakan helaan napas lega yang panjang. Ia membiarkan Arka menuntunnya duduk di tepi ranjang bambu. Tangannya dengan lembut menyentuh sudut bibir suaminya yang masih menyisakan bercak darah kering, seolah ingin memastikan bahwa pria di hadapannya benar-benar nyata dan bernyawa."Lalu... bagaimana, Mas? Apa rencana kita selanjutnya?" tanya Nia pelan. Matanya yang sembap menatap lekat sepasang manik hitam legam milik Arka, mencari kepastian di tengah pusaran badai yang baru saja mereka lewati.Arka menggenggam tangan istrinya, mencium punggung tangan itu dengan lembut. Namun, saat ia mulai berbicara, aura hangat seorang suami seketika berganti menjadi kalkulasi dingin sang Mastermind."Aku akan mengeksekusi mereka, Nia. Tapi tidak dengan cara murahan seperti membuang mayat mereka ke dasar jurang atau menembak kepala mereka di ruang bawah tanah," ucap Arka, suaranya terdengar sangat tenang namun mematikan.Arka me
Umpatan kasar Arya Barata menggema, memantul di dinding beton bunker yang dingin. Namun, Arka hanya menatap pamannya itu dengan kebosanan yang mematikan, sama sekali tidak terpancing oleh kemarahan sang pecundang yang sudah tak bertaring. Kematian terlalu cepat dan terlalu mudah bagi para pengkhianat ini.Arka mengalihkan pandangannya dari Arya, lalu menoleh ke arah Victor yang masih berdiri menunggu instruksi eksekusi."Begini saja, Victor. Kita tahan dulu mereka hidup-hidup," ucap Arka. Suara baritonnya kembali tenang, kembali ke mode seorang Mastermind yang sedang menyusun strategi jangka panjang. "Aku ingin tahu siapa yang akan mencari dan kebingungan ketika empat petinggi Barata Group ini mendadak hilang ditelan bumi. Aku ingin tahu lebih banyak, siapa saja pion-pion lain di perusahaan yang terlibat dengan mereka ini.""Baik, Bos," jawab Victor patuh, menganggukkan kepalanya dengan tegas.Arka merogoh saku celana komprangnya, mengeluarkan ponsel yang layarnya sedikit retak. Ia me
Pertanyaan mematikan Victor menggantung di udara bunker yang dingin dan lembap. Kata 'eksekusi' meluncur begitu saja dengan nada datar, namun efeknya setara dengan bom atom bagi keempat tawanan yang sedang berlutut.Arogansi dan rasa superioritas yang selama ini menjadi jubah keluarga Barata hancur lebur tanpa sisa. Dinding penyangkalan mereka runtuh. Di bawah cahaya lampu putih yang menyilaukan, mereka bukan lagi konglomerat ibukota yang tak tersentuh; mereka hanyalah manusia biasa yang dihadapkan pada teror kematian.Tiba-tiba, ruang bawah tanah itu dipenuhi oleh suara isak tangis dan rintihan yang menyedihkan.Clara menangis sesenggukan, riasan mahalnya luntur oleh air mata keputusasaan. Tante Maya yang selalu tampil anggun kini gemetar hebat, menundukkan kepalanya dalam-dalam karena tak sanggup menatap mata Arka. Dimas menggigit bibirnya hingga berdarah, mengutuk nasibnya dalam diam.Namun, yang paling mengejutkan adalah Arya Barata.Pria tua yang beberapa menit lalu berdiri angku
Suara napas yang memburu dan erangan tertahan memenuhi ruang bawah tanah yang pengap itu.Arka berdiri tegak di tengah ruangan. Ia memandangi keempat sosok berpakaian mewah yang kini berlutut tak berdaya di atas lantai semen yang dingin, kedua tangan mereka terikat erat oleh cable ties di belakang punggung.Darah masih mengering di sudut bibir Arka, dan tubuhnya yang dibalut pakaian kuli usang itu terasa nyeri akibat pukulan bertubi-tubi sebelumnya. Namun, saat menatap Arya, Maya, Dimas, dan Clara yang kini menatapnya dengan campuran antara teror dan ketidakpercayaan, seulas senyum kepuasan perlahan terukir di wajah Arka.Itu adalah senyum seorang raja yang baru saja merebut kembali kerajaannya dari para pengkhianat."Ternyata benar dugaanku tentang skenario paling busuk yang akan terjadi," suara bariton Arka memecah keheningan yang mencekam. Ia melangkah perlahan, mengitari keempat tawanannya layaknya predator yang sedang mengamati mangsanya. "Instingku memang tidak pernah salah."Ar
"Duduk dan lihat baik-baik foto ini, Dimas. Tolong, gunakan akal sehatmu dan jangan bicara sebelum kau benar-benar memahaminya."Suara Arka terdengar berat, dingin, dan memotong udara seperti bilah pedang. Ia melemparkan sebuah map tipis ke atas meja kerjanya, tepat di hadapan Dimas yang baru saja
"Pak Arka, maaf mengganggu. Ini laporan audit internal bulan lalu yang Bapak minta kemarin sore. Saya taruh di meja atau perlu saya jelaskan poin-poinnya sekarang?"Suara itu lembut, mendayu, namun penuh percaya diri.Arka tidak menoleh dari layar laptopnya. Ia tahu siapa pemilik suara itu bahkan s
Tok. Tok.Suara ketukan di pintu terdengar ringan, tidak seberat beban di dada Arka."Masuk," perintah Arka, suaranya parau.Pintu terbuka. Arka sudah bersiap menghadapi wajah manis Bella yang penuh kepalsuan. Dia sudah menyusun kalimat interogasi di kepalanya. Dia sudah siap meledak.Namun, yang m
"Bella!"Teriakan Dimas menggema di ballroom yang sunyi senyap itu. Dengan gerakan refleks yang cepat, Dimas sudah berlutut di samping tunangannya, menahan tubuh Bella yang terduduku lemas di anak tangga marmer.Wajah Bella pucat, matanya berkaca-kaca menahan sakit. Ia memegangi pergelangan kakinya







