"Eyang Uti datang!"Jeritan Amara memecah kesunyian pagi. Dari ruang keluarga, gadis kecil itu berlari sekencang kaki mungilnya, piyama kelincinya berkibar. Tangannya terentang.Ibunda Nia baru saja melangkah masuk. Begitu melihat Amara, wajahnya langsung berseri."Aduh, cucu Eyang..." Ia berjongkok, menangkap tubuh mungil itu. Diciumnya pipi Amara berkali-kali sampai gadis kecil itu terkikik geli. "Udah mandi belum, sayang?""Belum! Amara mau nunggu Eyang Uti dulu!"Arka berdiri di ambang pintu ruang makan, cangkir kopi di tangan. Ia tersenyum tipis. Pemandangan ini seperti oase."Ibu kok nggak bilang mau datang? Tahu gitu Arka jemput," sapa Arka, mendekat dan mencium punggung tangan ibu mertuanya."Nggak usah repot." Wanita itu tersenyum teduh. "Ibu naik kereta pagi. Kemarin malam kangen banget sama Amara, sampe nggak bisa tidur. Ya udah, berangkat aja pagi-pagi.""Nia lagi mandi, Bu. Sebentar lagi turun.""Udah, udah, Ibu duduk sini aja." Ibunda Nia melangkah ke sofa ruang tamu.Ark
Last Updated : 2026-02-22 Read more