Share

Bab 268

Penulis: Millanova
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-24 17:33:48

Senja merayap turun di Menteng. Langit Jakarta kelabu, seperti enggan bergerak sejak tadi pagi.

Di kamar utama Kediaman Barata, Tante Maya akhirnya tertidur lelap. Dokter Handoyo telah menyuntikkan obat penenang ringan pasca-insiden di ballroom tadi siang. Jantung wanita itu selamat berkat Nia dan tim medis yang diam-diam disiapkan Arka.

Arka berdiri di ambang pintu, menatap wajah pucat bibinya. Nia yang duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan wanita itu, menoleh dan memberikan senyum tipis.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 268

    Senja merayap turun di Menteng. Langit Jakarta kelabu, seperti enggan bergerak sejak tadi pagi.Di kamar utama Kediaman Barata, Tante Maya akhirnya tertidur lelap. Dokter Handoyo telah menyuntikkan obat penenang ringan pasca-insiden di ballroom tadi siang. Jantung wanita itu selamat berkat Nia dan tim medis yang diam-diam disiapkan Arka.Arka berdiri di ambang pintu, menatap wajah pucat bibinya. Nia yang duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan wanita itu, menoleh dan memberikan senyum tipis. Semua terkendali. Arka mengangguk, lalu menutup pintu perlahan.Langkahnya menyusuri lorong menuju ruang keluarga di lantai bawah. Dasi kupu-kupu sudah ia longgarkan, jas tuxedo pun telah dilepas. Lelah luar biasa merayapi ototnya, tapi ada kepuasan absolut di dadanya. Eksekusi tadi siang berjalan sempurna. Bella dipermalukan, ditangkap. Dimas selamat dari pernikahan beracun itu.Di ruang keluarga, Dimas duduk mematung di sofa. Segelas air putih di atas meja tak sedikit pun ia sentuh. Pandangann

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 267

    "TIDAAAK...!"Jeritan itu merobek keheningan Grand Ballroom Hotel Ritz-Carlton. Suaranya melengking, penuh kepanikan yang tak bisa disembunyikan lagi.Arka berdiri tegap di barisan depan area VVIP. Tangan di saku celana tuxedo hitam. Wajahnya datar. Tidak ada keterkejutan. Hanya ada kepuasan yang ditahan rapat-rapat.Di atas altar yang dihiasi ribuan mawar dan lili putih, prosesi pernikahan mati sebelum dimulai.Penghulu yang tadi memegang mikrofon kini membeku. Dan di belakangnya, layar proyektor raksasa yang seharusnya menampilkan video romantis Dimas dan Bella menayangkan sesuatu yang sama sekali berbeda.Rekaman CCTV lorong penjara. Gerak lambat. Sosok Bella dalam gamis abu-abu, menurunkan masker, tersenyum lebar saat memeluk Clara Puspita di ambang pintu sel VIP.Kualitas video itu jernih. Sangat jernih. Tidak ada ruang untuk sanggahan.Di altar, Bella merosot jatuh.Lututnya membentur lantai pualam dengan bunyi keras. Gaun broken white bertatahkan ribuan kristal itu mengembang d

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 266

    Kurang dari dua belas jam sebelum hari yang sudah ditunggu.Di ruang kerja pribadi Arka, lampu utama mati. Hanya lampu meja yang menyala, memendar kuning temaram. Di luar jendela, hujan deras mengguyur Jakarta. Kilat sesekali menyambar, menerangi ruangan sekilas lalu kembali gelap.Denting es batu di gelas kristal memecah keheningan.Arka menuang Macallan ke dua gelas. Ia berjalan pelan melintasi karpet, menyodorkan satu ke Dimas yang berdiri mematung di depan jendela."Minum. Biar rahangmu nggak kaku terus."Dimas menoleh. Wajahnya kuyu, tapi matanya berbeda. Ada kilat buas di sana yang belum pernah Arka lihat. Pemuda naif yang dulu memuja Bella sudah mati. Yang berdiri di sini sekarang adalah keturunan Barata yang sesungguhnya.Dimas menerima gelas, menggoyangnya pelan, lalu meneguknya habis dalam satu tarikan. Panas wiski membakar tenggorokan pelarian kecil dari rasa muak yang mengendap di dadanya."Makasih, Kak." Ia meletakkan gelas kosong ke atas meja, mengusap wajah dengan kasar

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 265

    Dering ponsel memecah keheningan ruang kerja.Selasa siang. Tiga hari sebelum pernikahan. Arka baru saja selesai meeting virtual, matanya masih lelah menatap layar. Tapi begitu melihat nama di layar ponsel Dimas, ia langsung fokus.Bella Sayang, dengan emoticon hati merah.Dimas menatap ponselnya seperti melihat ular. Jakunnya bergerak.Arka menyandarkan punggung, melipat tangan. Seringai tipis mengembang."Angkat." Suaranya rendah. "Dengar bagaimana tikus itu meronta."Dimas menarik napas. Rahangnya mengendur. Mata penuh kebencian diredupkan. Topeng kekasih kembali terpasang.Jarinya menggeser ikon speaker."Halo Sayang? Tumben siang-siang telepon. Udah makan?" Suara Dimas hangat, penuh perhatian. Akting sempurna.Di seberang, tarikan napas tertahan."Ha... halo, Mas Dimas." Suara Bella berusaha manja. Tapi Arka menangkap getar di sana. Ketergesaan. Kepanikan yang dikubur di bawah gula-gula. "Mas lagi sibuk? Maaf kalau ganggu.""Nggak kok. Baru selesai cek kontrak." Dimas menatap Ark

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 264

    Udara dingin ruangan kembali merayap di antara mereka. Arka mundur sedikit, tangannya turun dari punggung Nia, bertumpu di lutut. Di ruang kedap suara ini, tiba-tiba hanya ada suara jarum jam di dinding tik, tok, tik berbarengan dengan degup jantungnya sendiri yang mulai tidak karuan.Arka menatap Nia. Lama.Lalu matanya berubah.Nia kenal perubahan itu. Biasanya tatapan itu muncul saat Arka sedang menganalisis lawan bisnis, mencari kelemahan, menyusun strategi. Tapi sekarang tatapan itu diarahkan ke dirinya. Dan itu membuat dadanya sesak."Nia."Suara Arka serak. Dingin."Kamu memang sudah merencanakannya dari awal, ya?"Nia membeku."Mas ""Jawab." Arka mencondongkan badan, matanya menuntut. Tapi di balik tuntutan itu, ada sesuatu yang lain sesuatu yang rapuh, yang mencoba bersembunyi. "Waktu kamu pertama kali masuk rumah ini... waktu kamu bawain aku kopi tiap malam... waktu kamu dengerin aku cerita soal pernikahan yang berantakan... itu semua bagian dari rencana kamu buat hancurin

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 263

    Suara Nia memecah ketegangan yang masih menggantung. Dari anak tangga terakhir, ia setengah berlari menghampiri ibunya. Wajahnya yang baru selesai mandi terlihat segar, kontras dengan perasaan Arka dan ibu mertuanya yang masih kacau."Kejutan dong, Nduk." Ibunya memaksakan senyum selebar mungkin. "Ibu semalem kangen banget sama Amara, jadinya subuh-subuh langsung berangkat naik kereta.""Ya ampun, Bu... Harusnya telepon Mas Arka, biar dijemput sopir." Nia merajuk, menyandarkan dagu di bahu ibunya.Arka masih berdiri di dekat meja kaca. Ia melihat ibu mertuanya meliriknya sekilas tatapan yang memohon agar ia diam. Arka mengangguk pelan."Nggak apa-apa, Ibu masih kuat jalan kok." Wanita itu mengusap punggung Nia. "Kamu udah sarapan? Sana temani suamimu dulu. Ibu mau istirahat sebentar di kamar ya, pinggang Ibu pegal habis duduk lama.""Iya, Bu. Biar Nia antar." Nia mengambil tas ibunya, menuntun wanita itu menuju kamar tamu.Arka mematung. Ia menunggu sampai pintu kamar tertutup. Begitu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status