Seminggu. Tujuh hari yang terasa seperti seumur hidup. Di balik dinding kaca yang menjulang ini, Wulan telah mempelajari irama baru yang brutal.Ia bukan lagi gadis gunung yang naif. Ia kini penghuni sangkar emas di puncak hutan beton.Setiap pagi, ia berdiri di depan jendela raksasa itu, menatap ke bawah. Jakarta terbentang di kakinya, sebuah organisme raksasa yang mendesah, berdenyut, dan tidak pernah tidur.Dari ketinggian ini, bus-bus tampak seperti kumbang yang merayap, mobil-mobil seperti butiran darah yang mengalir di pembuluh jalanan. Dan di dalam setiap kumbang dan butiran darah itu, ada sumber energi yang ia butuhkan.Namun, energi di sini berbeda. Di desa, gairah itu jujur dan meledak-ledak.Seorang pria melihat lekuk pinggul di balik kain jarik atau belahan dada yang mengintip dari kebaya, dan gelombang nafsu yang panas dan murni langsung menghantam Wulan. Mereka tidak menyembunyikannya.
Last Updated : 2025-12-09 Read more