Sofa kulit yang panjang itu terasa dingin di balik paha Wulan. Ia duduk tegak, kedua tangannya terkepal di pangkuan, merasakan setiap helaan napas berat dari dua pria yang mengisi ruangan bersamanya.Keheningan pasca pertemuan dengan William Sanjaya terasa lebih menekan daripada kebisingan kota di luar jendela apartemen yang menjulang tinggi.Di sebelahnya, Broto menyandarkan punggungnya yang lebar, jempolnya mengusap-usap tepi foto Sovia yang kini tampak kusam di bawah cahaya lampu yang temaram. Matanya menatap kosong ke depan, pikirannya jelas berada di tempat lain.Di seberang mereka, di kursi tunggal, Tagor duduk seperti sebuah patung granit. Diam, besar, dan mematikan. Namun, matanya tidak diam.Tatapannya yang kelam terpaku pada Wulan, sebuah pandangan tanpa kedip yang terasa seperti sentuhan fisik.Setiap detik, Wulan merasakan aliran hitam pekat dari pria itu. Aliran itu tidak lagi hanya sekadar aura, tetapi sudah menjadi sesuatu yang lebih nyata.Ia terasa seperti sulur-sulur
Last Updated : 2025-12-20 Read more