Home / Horor / Terjebak Gairah Siluman / 92. Pancing mereka

Share

92. Pancing mereka

Author: Lincooln
last update publish date: 2025-12-09 12:00:32

Seminggu. Tujuh hari yang terasa seperti seumur hidup. Di balik dinding kaca yang menjulang ini, Wulan telah mempelajari irama baru yang brutal.

Ia bukan lagi gadis gunung yang naif. Ia kini penghuni sangkar emas di puncak hutan beton.

Setiap pagi, ia berdiri di depan jendela raksasa itu, menatap ke bawah. Jakarta terbentang di kakinya, sebuah organisme raksasa yang mendesah, berdenyut, dan tidak pernah tidur.

Dari ketinggian ini, bus

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjebak Gairah Siluman   185. Terjebak.. Selamanya?

    Udara di dalam kabin bus yang semula dingin menusuk mendadak berubah menjadi uap kental yang berbau busuk, perpaduan antara bangkai yang membusuk dan belerang yang membakar hidung.Wulan tersentak, merasakan getaran mesin di bawah kakinya bukan lagi berupa putaran piston, melainkan denyut jantung raksasa yang tidak beraturan. Kaca jendela yang tadinya memperlihatkan kegelapan jalanan kini tertutup oleh lapisan lendir berwarna merah tua yang merayap cepat, menyelimuti seluruh pandangan."Kau merasakannya, Neng? Bus ini sudah bosan menjadi besi tua."Suara Gatot pecah, berubah menjadi geraman rendah yang menggetarkan tulang rusuk Wulan. Wulan menatap pria plontos itu, namun yang ia lihat bukan lagi manusia.Kulit di wajah Gatot retak, terkelupas seperti kertas terbakar, menyingkap daging merah yang basah di bawahnya. Sepasang taring melengkung keluar dari rahangnya yang membesar, sementara matanya menyusut menjadi lubang hitam yang memancarkan kebencian murni."M-mas Gatot... wajahmu...

  • Terjebak Gairah Siluman   184. Mengepung

    Napas Gatot yang berat menderu di ceruk telinga Wulan, membuahkan geli yang menjalar hingga ke pangkal paha. Rambut Wulan terasa tertarik paksa saat Gatot mencengkeramnya, menarik kepalanya mendongak. Matanya yang merah membara menatap dalam, menuntut."Jadi, ini yang kau mau, Neng?"Wulan memejamkan mata, mengangguk lemah, merasakan desakan gairah hitam yang pekat dari tubuh Gatot merasuk ke setiap pori kulitnya. Itu memabukkan, merampas semua daya untuk melawan.Gatot menyeringai. Bibirnya yang tebal mendarat di leher jenjang Wulan, lidahnya menjulur, menjilat dan menghisap kuat. Sensasi panas menjalari kulit Wulan, seolah setiap jilatan Gatot membakar setiap serat sarafnya. Gadis itu mendesah panjang, punggungnya melengkung secara refleks."Nnghh... Mas...""Manis," Gatot mengerang, suaranya parau, dipenuhi nafsu yang tak tertahankan. Lidahnya bekerja liar, menghisap, menggigit kecil, meninggalkan jejak merah di kulit Wulan yang putih.Tangan besar Gatot tidak tinggal diam. Perlaha

  • Terjebak Gairah Siluman   183. Berpura-pura

    Udara di dalam kabin bus sleeper itu terasa dingin menusuk kulit, namun Wulan justru merasakan hawa panas yang berbeda merayap dari arah depan. Melalui celah tirai kabinnya yang sedikit terbuka, dia bisa merasakan sepasang mata dari balik kaca spion tengah—sang sopir yang sesekali melirik dengan tatapan lapar.Di samping pintu, kernet bus bersandar sambil memainkan ponsel, namun kepalanya condong ke arah lorong kabin dan sesekali melirik separuh tubuh Wulan yang terlihat menjorok ke koridor bus.Wulan meregangkan tubuh di atas kasur sempitnya. Jaket denim pendeknya tersingkap, memperlihatkan perut putih mulusnya yang berdenyut halus mengikuti irama napas. Ceruk pusarnya yang seksi mengintip di balik garis pinggang jeans rendah yang ketat.Dia tahu mereka menonton. Dia membiarkan satu kakinya tertekuk, membuat paha di balik jeans itu tercetak jelas, mengundang imajinasi liar bagi siapa pun yang melihatnya.Tiba-tiba pintu hidrolik terbuka dengan bunyi yang berdecit berat. Tak lama, der

  • Terjebak Gairah Siluman   182. Bus malam

    Pulogebang jam sembilan malam itu ibarat lubang kakus yang meluap. Bau solar menyengat bercampur aroma keringat basi dan asap rokok murahan yang menggantung di udara lembap.Wulan berdiri di depan gerbang terminal, membiarkan ransel kecilnya menggantung malas di satu bahu. Dia teringat geraman rendah Mbah Broto tempo hari di apartemen."Bus malam itu sarang gairah paling busuk, Wulan. Para lelaki yang lelah, jauh dari istri, dan penuh tekanan. Hisap semua gairah mereka sebelum kita sampai di Jawa Timur."Wulan menarik napas panjang. Udara kotor terminal itu justru terasa seperti candu. Dia menyesuaikan letak tank top putihnya yang berbahan tipis. Belahan dadanya yang padat menyembul berani, ditekan oleh jaket denim pendek yang bahkan tidak sampai menutupi pinggangnya.Setiap kali dia bergerak, kulit perutnya yang putih mulus dan ceruk pusarnya yang seksi mengintip nakal di atas garis jeans rendahnya yang ketat.

  • Terjebak Gairah Siluman   181. Perjalanan baru

    Sprei sutra di bawah tubuh Wulan terasa seperti hamparan silet halus yang menggores kulitnya yang terlalu sensitif. Dia mengerang, mencoba menggerakkan lengannya yang terasa seberat timah.Setiap inci dagingnya berdenyut, mengirimkan sinyal nyeri yang tajam ke pangkal otaknya. Namun, saat dia menunduk untuk memeriksa kerusakan itu, dia tertegun.Kulitnya mulus. Tak ada memar keunguan, tak ada bekas cengkeraman kuku siluman, bahkan tak ada robekan di liang kewanitaannya yang tempo hari dihantam habis-habisan.Wulan bangkit perlahan, membiarkan selimut itu merosot jatuh ke lantai apartemen mewah milik Broto. Dia berdiri di depan cermin besar di sudut kamar, memandangi pantulan dirinya.Tubuhnya tampak lebih bercahaya, seolah-olah gairah hitam yang diserapnya telah menyatu sempurna dengan aliran darahnya. Dia melangkah keluar kamar tanpa sehelai benang pun, membiarkan udara dingin dari pendingin ruangan membelai leku

  • Terjebak Gairah Siluman   180. Jangan lengah (long chapter)

    Lantai daging itu berdenyut lebih liar, seolah-olah seluruh ruangan sedang mengalami orgasme masal yang menjijikkan. Lendir ungu pekat menetes dari langit-langit, membasahi tubuh Wulan yang sudah tidak berbentuk lagi di bawah himpitan tiga monster babi hutan.Di luar sana, di balik lapisan dimensi daging ini, bulan purnama menggantung sempurna di langit kelam, memancarkan perak yang mematikan."Makan lagi, Jalang! Telan semuanya!"Siluman kurus itu menghantamkan miliknya yang berduri ke dalam mulut Wulan, memaksa kepala gadis itu membentur lantai yang kenyal. Di bawah, siluman bertaring patah masih sibuk mengoyak lubang belakang Wulan, sementara sang pemimpin raksasa meremas payudara Wulan hingga kuku-kukunya membenam ke dalam daging putih itu."Wulan... Kau dengar aku?"Sebuah suara berat, berwibawa, dan sangat dingin bergema di dalam tempurung kepala Wulan. Suara itu tidak datang dari telinga, melainkan langsung merasuki jiwanya.Batara Durja. Sang harimau penguasa kawah Halimun sed

  • Terjebak Gairah Siluman   153. Mencari tempat angker

    Matahari Depok membakar aspal dengan sisa-sisa tenaga sore itu saat Wulan melangkah menyusuri gang sempit menuju kos-kosan Ano. Ia hanya mengenakan kaos putih tipis yang mencetak jelas lekuk bra hitamnya dan celana jeans ketat yang seolah menyiksa pinggulnya yang berisi.

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Terjebak Gairah Siluman   147. Pertemuan

    Matahari pagi baru saja menyentuh kaca-kaca gedung tinggi Jakarta saat sebuah sedan hitam mewah berhenti tepat di depan lobi apartemen. William Sanjaya keluar dengan setelan jas abu-abu yang tampak sangat kontras dengan wajahnya yang kuyu dan matanya yang merah.

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Terjebak Gairah Siluman   143. Salah perhitungan

    Lampu kristal di langit-langit apartemen bergoyang pelan, memantulkan cahaya redup pada butiran keringat yang membasahi kulit porselen Wulan. Di bawah kakinya, tubuh Si Botak yang tadinya perkasa kini hanya berupa onggokan daging layu yang tak lagi bernapas dengan b

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Terjebak Gairah Siluman   144. Menyelamatkan Sovia

    "Ohok!!"Wulan terbatuk, memuntahkan sisa oksigen yang terasa beracun di paru-parunya. Cairan asin membasahi bibirnya yang pecah. Ia mendongak, melihat bayangan Si Cepak yang bergerak mendekat dengan langkah-langkah berat yang berirama.Marmer di ba

    last updateLast Updated : 2026-04-01
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status