Pagi itu rumah mereka wangi kopi.Alaire duduk di balkon dengan sweater tebal, menatap langit yang baru saja selesai diguyur hujan. Tetes air masih menggantung di daun, memantulkan cahaya matahari yang malu-malu muncul di balik awan.Dari dalam, suara Nayel terdengar memanggil, “Kau mau roti bakar atau pancake?”“Yang nggak gosong,” jawab Alaire malas.“Jadi tidak keduanya.”“Pintar sekali, Nayel.”Nayel muncul dengan dua piring — satu berisi pancake yang terlalu tebal, satu lagi roti yang sedikit hitam di tepinya.Alaire mengerling. “Kamu sadar, kan, ini kejahatan kuliner?”Nayel menatap serius. “Tidak, ini seni abstrak.”“Abstrak memang. Karena aku nggak tahu mana bagian yang bisa dimakan.”Mereka tertawa, dan di antara aroma kopi serta suara burung yang mulai bernyanyi, pagi terasa begitu hidup.Ada kehangatan sederhana di sana — yang bahkan tidak butuh kata cinta untuk terasa nyata.Setelah sarapan, Nayel bersiap ke kantor. Tapi sebelum pergi, ia menatap Alaire yang sedang menyira
Last Updated : 2025-11-04 Read more