Fajar belum sepenuhnya muncul ketika Nayel membuka pintu rumah pelan-pelan.Udara dingin menggigit kulit, sementara langit masih dibalut kabut tipis.Ia membawa jaket, sebotol air, dan secarik surat yang kini sudah lusuh di tangannya.Langkahnya berhenti di depan pagar. Ia menatap rumah itu sejenak tenang, damai, tapi menyimpan banyak hal yang belum terucap.“Maaf, Alaire…,” bisiknya lirih.Lalu ia melangkah pergi.Yang tidak ia sadari, di balik tirai kamar, Alaire berdiri terdiam, matanya mengikuti sosok Nayel yang menjauh.Ia sudah terbangun sejak bunyi pintu pertama kali terbuka.Dan kini, hatinya penuh tanda tanya yang menyesak.Beberapa jam kemudian, Alaire memutuskan menyusul.Ia tidak tahu harus ke mana, tapi firasatnya membawanya menuju arah selatan ke tempat yang pernah disebut Nayel dulu, pantai kecil di luar kota.Perjalanan memakan waktu tiga jam dengan bus.Alaire duduk di dekat jendela, matanya kosong menatap jalanan yang terus berganti.Pikiran-pikiran berlarian di kep
Last Updated : 2025-11-05 Read more