Rumah itu terasa berbeda tanpa suara langkah Alaire.Padahal baru sehari ia pergi ke rumah ibunya, tapi keheningan yang tertinggal seolah menempel di setiap sudut ruangan.Tak ada tawa lembut di dapur, tak ada gumaman kecil saat ia menyapu lantai, bahkan aroma kopi buatan tangannya pun tak lagi mengisi pagi Nayel.Ia duduk di kursi makan, memandangi dua cangkir kosong di atas meja.Satu untuknya, satu lagi untuk Alaire.Kini hanya tinggal satu yang terisi.“Jadi begini rasanya… kehilangan seseorang yang masih hidup,” gumamnya lirih.Sementara itu, di rumah ibunya, Alaire menatap langit dari balkon.Angin sore membelai rambutnya, tapi matanya kosong.Ibunya, Nyonya Raina, menghampiri sambil membawa dua cangkir teh melati.“Masih belum mau bicara, Nak?”Alaire menggeleng pelan. “Aku cuma butuh waktu, Bu.”Nyonya Raina duduk di sampingnya. “Masalah kalian… berat, ya?”Alaire tersenyum pahit. “Bukan berat, Bu. Hanya… mengejutkan. Aku kira kami sudah jujur satu sama lain.”“Dan sekarang ka
Last Updated : 2025-11-11 Read more