Senyum bahagia terus terpancar dari wajah Selena. Ia benar-benar tidak menaruh rasa curiga sedikitpun kepada Langit dan juga Aureli. Baginya, semua terasa biasa-biasa saja. “Tentu saja Aurel suka, Mas,” jawab Selena. Ia lalu melihat kepada Aureli. “Iya kan, Sayang?” tanyanya.“I—iya, Ma. Aurel akan selalu mendukung apapun yang bikin Mama bahagia,” ujar Aureli, jari tangannya di depan badan saling mencubit.“Kamu memang anak yang sangat baik, Aureli … senang, bisa menjadi ayah sambungmu.” Langit mempertegas status mereka di depan Selena, padahal … ia hanya ingin membuat perempuan muda itu semakin naik darah.“Hiii ….” Aureli melepas senyum lebar namun penuh keterpaksaan.“Ya sudah, saya pamit pulang dulu.” Langit melepaskan pegangan tangannya dari Selena. “Eh, Mas. Di dalam ada buah potong dan beberapa kue. Mau bawa pulang nggak?” tawar Selana. “Hm … boleh, kalau tidak merepotkan,” ucap Langit.“Ih, Mas. Mana ada merepotkan. Tunggu sebentar ya?” ucap Selena, ia lalu beralih atensi k
Magbasa pa