Gelas di tangan Arumi bergetar pelan, menciptakan riak kecil pada sisa jus jeruk yang ada di dalamnya. Ia merasa seolah sedang berdiri di tepi jurang yang curam, dan Langit baru saja memberi dorongan kecil di punggungnya. Tatapan pria itu—yang terlihat begitu tenang namun penuh dengan sandiwara—benar-benar membuat Arumi ingin menghilang detik itu juga. Ia tahu, Langit bukanlah pria yang sabaran.“Ng—enggak usah, Om! Udah bener kok. Udah nggak bocor sama sekali!” seru Arumi dengan nada yang sedikit tinggi, saking paniknya. Ia segera menunduk, menghindari tatapan menyelidik Selena yang mulai terasa berat.“Oh, baguslah kalau sudah benar. Jangan sampai airnya terbuang percuma, Arumi. Mubazir,” ucap Langit dingin, namun matanya berkilat nakal, menikmati kepanikan yang ia ciptakan di wajah istrinya itu.“Heh, iya, Om.” Arumi tersenyum lebar tapi hambar.“Ya udah, sudah cukup membahas masalah kerannya. Lanjut makan dulu,” ujar Selena seraya menyendok lagi nasi gorengnya. “Mas mau lagi?” ta
Terakhir Diperbarui : 2026-02-20 Baca selengkapnya