Arumi menggenggam tangan Viola yang masih menempel di pipinya, berusaha menyalurkan rasa sesal yang teramat di dalam diri. Isakannya masih belum mereda, bahkan semakin pilu saat mendengar pengakuan sang ibu mertua selama kepergiannya.“Maafin Arum, Bunda ... Arum nggak bermaksud untuk ninggalin Bunda. Arumi juga nggak bermaksud bikin Bunda, Ayah dan Mutiara sedih,” Arumi terisak, mencoba mencari kata-kata yang tepatuntuk dijadikan sebagai alasan. Tak mungkin ia katakan jika ia sengaja tak pulang karena marah pada Langit.“Waktu itu ... waktu itu Arum—” ucap Arumi lagi, tapi tidak selesai.“Arumi amnesia, Bun, Yah,” potong Langit cepat. “Setelah mengalami kecelakaan hebat, Arumi terluka parah. Jadi Arumi sempat kehilangan ingatannya,” sambungnya.Mata Viola dan Erlangga membelalak secara bersamaan. “Kehilangan ingatan?” tanya Erlangga lebih ingin memastikan.Arumi mengangguk ragu. “I–iya, Yah. A–arum … Arum sempat lupa siapa Arum, lupa sama Om Langit, juga lupa sama Bunda dan Ayah.
Mehr lesen