Arumi membuka mata perlahan, ia mendapati dirinya sudah berada dalam sebuah kamar yang cukup mewah. Setelah tak sadarkan diri karena syok dan beban pikiran yang cukup berat, Langit membawanya ke salah satu kamar yang ada vila Selena dan menidurkannya di atas ranjang. “Om Langit!?” ucap Arumi lirih. “Kamu sudah bangun? Apa kamu lapar?” tanya Langit seraya mengelus-ngelus punggung tangan Arumi. “Makan, Om?” “Ehm. Ini sudah malam. Kamu pasti lapar, kan? Saya ambilkan nasi dulu ya?” Langit hendak bangkit dari duduknya, namun tangan Arumi menahannya. “Nanti aja, Om. Arum belum lapar.” Arumi menunduk cepat, karena tak kuasa menatap lama wajah suaminya. Suami yang selalu menerima dirinya apa adanya. “Nanti kamu sakit, Arumi. Makan dulu ya?” bujuk Langit lagi. Arumi menggeleng pelan, pegangannya pada lengan Langit justru mengerat namun tanpa tenaga. Setitik air mata kembali jatuh, membasahi sprei sutra yang menutupi ranjang mewah itu. “Kenapa, Om?” bisik Arumi, suaranya
Mehr lesen