“Nanti saya beritahu,” jawab Ray menggantung. “Sekarang lebih baik kita pulang. Bahaya, kalau sampai Selena tahu kamu sudah tahu tentangnya. Saya tidak mau kamu kenapa-kenapa.”Mendengar itu, hati Grace seperti ditampar. Ia tertegun sejenak, seraya terus menatap Raymond yang terus melihat ke arah Selena untuk kemudian melangkah tanpa perempuan itu lihat. “Pak …,” lirih Grace tiba-tiba. “Iya, kenapa?” tanya Ray tanpa memutar tubuh sepenuhnya, ia hanya menoleh sedikit ke arah Grace, memperlihatkan profil rahangnya yang tegas berlatar remang cahaya lorong kafe. Sepasang iris matanya yang tajam menatap Grace lurus-lurus, menunggu lanjutan kalimat dari bibir gadis itu yang masih gemetar.Grace mengepalkan jemarinya kuat-kuat di samping tubuh. Hatinya berkecamuk hebat—berperang antara rasa tidak percaya dan ketakutan yang merayapi seluruh tubuhnya. “Bapak ... Bapak lagi nggak bohongin aku kan?” lirih Grace lagi, suaranya hampir tenggelam oleh desir angin yang membentur dinding kafe. R
Last Updated : 2026-10-10 Read more