“... ini semua rencanamu, Andini? Kamu yang mengatur semua ini? Jangan bilang kalau kecelakaan yang dialami oleh Arumi juga karena kamu.”Andini tertawa nyaring, persis seperti kuntilanak di film-film horor. “Tepat sekali, Mas Langit! Namun sayangnya, kamu merusak semuanya dengan jatuh cinta pada perempuan bodoh ini. Kupikir, kamu akan lebih memilih Selena yang dewasa, cantik dan kaya raya. Namun ternyata aku salah.”Langit menggeleng pelan, masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang Andini bilang. Sementara di sisi lain, Arumi masih berdiri dengan air mata yang kian mengalir deras. Marco mendekat, mengapit wajah Arumi dengan kedua tangannya. “Kamu milik saya, Arumi. Kenapa kamu pergi dari saya?” tanya Marco dengan raut wajah sangar. “Jangan sentuh dia!” teriak Langit, suaranya menggelegar. Dia lalu bangkit dan melangkah cepat ke arah pria itu. Bajo bersiap menembak. Namun gerakan tangan Marco menyuruhnya untuk menurunkan senjata. “Biarkan dia.”Langit mendorong Marco dan lang
Leer más