"Arvin, kamu sarapan dulu. Nanti kamu terlambat kerja.""Aku tunggu Renee."Arvin menurunkan Renji, lalu mencubit pipinya dan bertanya, "PR pagi dan malam sudah selesai belum?""Sudah ...." Renji mengangguk dengan bangga. "Dapat ... 100."Nissa tersenyum dan mengusap kepala mungilnya. "Renji sangat hebat. Apa pun pelajarannya pasti bisa 100.""Mama Nissa, gendong!" Renji melemparkan tubuh ke arah Nissa dengan gembira.Namun, kali ini Nissa tak menggendongnya, hanya berujar dengan lembut, "Renji, mamamu selalu merindukanmu. Mamamu boleh gendong kamu?"Adegan seperti ini sudah sering Renee lihat. Namun, hatinya tetap saja tersayat. Bagaimanapun itu adalah suami dan anaknya. Sekarang mereka justru seperti menjadi milik orang lain. Untungnya, dia sudah menyiapkan diri.Setelah menata suasana hati, dia melangkah turun. Nissa "lebih dulu" melihatnya, lalu tersenyum kepada Renji. "Lihat, Mama sudah bangun. Biar Mama yang gendong ya?"Masih trik yang sama. Yang tak terduga, kali ini Renji tida
Read more