"Laila," panggil Nur dengan suara keras. "Bu, ada apa ini," tegur dokter yang memeriksa Laila. "Dok, kami kerabatnya Laila. Bagaimana dengan keadaannya?" tanya Nur berdiri di dekat Laila yang berbaring. Laila masih tertutup mata di atas ranjang. Kepala yang terluka sudah di perban. "Keadaan pasian baik-baik saja. Dia hanya pingsan gara-gara terbentur dengan meja," sahut dokter. "Apa ada lukanya serius, Dokter?" sambung Hanif. "Tidak, hanya luka kecil di dahinya. Beberapa hari bisa sembuh. Kalau boleh tahu, dimana suami Ibu ini?" "Suami?" ucap Nur dan Hanif berbarengan. "Iya, saya ingin menjelaskan tentang kehamilan Ibu ini." "Hamil, Laila hamil?" tanya Nur dengan suara terbata-bata. "Kalian tidak tahu kalau Ibu ini sedang hamil?" tanya dokter heran. Nur dengan cepat melihat ke arah Hanif. Dia menatap Hanif dengan tajam dan benci. "Nur, ini tidak seperti yang kamu bayangkan," ujar paham dengan maksud tatapan Nur. "Nur benci sama Mas," balas Nur. Nur langsung meningg
Last Updated : 2026-01-02 Read more