"Mas," ujar Nur dengan suara bergetar. "Ada apa, Nur?" tanya Hanif mengerutkan kening. "Mas, Laila Mas." "Laila? Kamu menemukan Laila? Dimana Laila?" tanya Hanif menggebu. "Laila berdarah. Bisma juga berdarah," ujar Nur tidak bisa menyusun kata-kata dengan baik. "Darah? Apa maksud kamu. Apa terjadi sesuatu sama kamu dan Laila?" tanya Hanif mulai panik. "Laila dan Bisma berdarah. Bisma ingin mencelakai Laila." "Sekarang kalian ada di mana?" "Kami ada di perumahan jalan blok A," sahut Nur. "Kamu kirimkan posisi kalian. Mas akan segera kesana," kata Hanif. "Iya Mas." Hanif memutuskan sambungan panggilan. Hatinya tidak bisa tenang mendengar perkataan Nur. "Pak, saya harus pergi sekarang," ujar Hanif kepada polisi. "Bapak tidak bisa. Bapak harus di denda." "Pak, keluarga saya dalam keadaan darurat. Atau Bapak ikut saya saja. Jadi saya tidak akan lari. Nanti kita urus kesalahan saya," mohon Hanif memegang pak polisi. Kedua polisi itu saling melirik. Mereka juga mencurigai
Read more