Dina memejamkan mata sejenak, menahan gelombang perih yang mendadak menyerang tenggorokannya. Ia memaksakan senyum tipis, senyum yang sama sekali tidak mencapai hatinya.“Ya, Mas. Tentu saja aku baik-baik saja,” jawab Dina, mengatur setiap tarikan napasnya agar terdengar santai.“Syukurlah kalau kamu baik-baik saja.” Helaan napas lega terdengar, tapi hanya sesaat setelahnya pria itu kembali bertanya dengan nada cemas. “Arka belum pulang, kan?” Air mata Dina sudah menggenang di pelupuk, mengancam akan tumpah. Ia harus segera mengakhiri ini."Belum, Mas. Ia akan kembali sore nanti. Jadi untuk saat ini aku baik-baik saja. Dan kamu tenang saja, aku pasti baik-baik saja, Mas. Jangan terlalu khawatir.” Dina berbohong, suaranya naik satu oktaf agar terdengar normal. "Aku akan menghubungimu nanti, ya."Sebelum Davin sempat membalas dengan pertanyaan lain, Dina segera mengucapkan, "Sampai nanti," lalu memutuskan sambungan telepon dengan cepat. Jantungnya berdebar keras, suara tangisan yan
Last Updated : 2025-12-09 Read more