Padahal Aura sudah berusaha tenang. Ia memejamkan mata, memaksa dirinya diam, seolah dengan begitu pikirannya juga akan ikut terlelap. Ia bertekad, besok ketika suaminya pulang dari luar kota, ia akan menanyakannya dengan kepala dingin. Tanpa emosi. Tanpa prasangka.Namun, nyatanya pikiran itu tak mau berhenti bekerja. Seperti mesin yang dipaksa menyala tanpa henti, ia terus memutar ulang bayangan-bayangan yang membuat dada Aura sesak. Setiap kali mengingat gadis tak tahu diri itu, napasnya terasa berat, seakan ada beban yang menekan tepat di ulu hati.Akhirnya, daripada terus bergulat dengan kegelisahan sendiri, Aura bangkit. Ia meraih ponselnya di meja samping ranjang, menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya menghubungi suaminya.Pras sedang di Lombok untuk mengurus beberapa proyek. Saat ini pukul sebelas malam. Waktu mereka tak terpaut jauh seperti jika terpisah benua. Mudah-mudahan Pras belum beristirahat. Biasanya, jam segini pun ia masih terjaga.Panggilan pertama tak dian
Dernière mise à jour : 2026-02-16 Read More