Hari-hari terus berlalu. Perlahan, keyakinan yang selama ini Reihan bangun mulai retak. Awalnya, ia begitu yakin, Alya hanya pergi karena marah, butuh waktu sendiri, lalu akan kembali seperti biasa. Namun kenyataannya… Sampai sekarang, Alya tak juga muncul. Rumah yang dulu terasa biasa saja, kini mendadak terasa terlalu sepi. "Sebaiknya kamu pergi mencari istrimu, Reihan," ucap Gunawan memecah keheningan. Hari itu, Gunawan, Mirna, dan Sandra datang untuk melihat keadaan Reihan. Dan yang mereka lihat… jauh dari kata baik. Reihan duduk bersandar di sofa, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya kusam, bahkan bajunya pun terlihat tidak serapi biasanya. "Tidak perlu," sahut Reihan datar. "Alya hanya sedang syok karena kehilangan anak kami. Dia butuh waktu sendiri. Kalau sudah tenang, dia pasti pulang." Mirna menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan. Meskipun masih tampak angkuh, ada rasa bersalah yang terselip di dadanya. Ia sadar, secara tidak langsung, dialah pemicu Alya
Read more