Sebuah langkah kaki yang berat dan berirama tegas terdengar mendekat. Alya dan Dina refleks melepaskan pelukan mereka. Di ujung lorong, sosok Reihan berdiri dengan ekspresi yang sulit dibaca, dingin, namun ada kilat kelelahan di matanya."Bisa tinggalkan kami sebentar?" suara Reihan terdengar rendah, namun penuh otoritas.Dina sempat ragu, ia menatap Alya seolah meminta konfirmasi. Setelah Alya mengangguk kecil, Dina berdiri, menepuk bahu Alya pelan sebelum berlalu pergi dengan langkah enggan.Kini tinggal mereka berdua. Keheningan di lorong itu terasa lebih berat daripada kebisingan di lobi tadi."Kenapa kamu masih di sini?" tanya Reihan tanpa basa-basi. "Bukankah seharusnya kamu sudah masuk kelas?"Alya bangkit dari duduknya perlahan, bahunya merosot layu dengan kepala yang menunduk dalam. Ia meremas ujung kemejanya yang lembap, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang tercecer."Aku... Aku hanya ingin menenangkan diri, Mas," ucap Alya lirih, suaranya nyaris tak terdengar, ter
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-01-29 อ่านเพิ่มเติม