Setelah kelas berakhir, koridor kampus mulai terasa lengang. Dina terus-terusan meremas ujung bajunya, wajahnya pucat pasi seperti orang yang sedang mengantre hukuman mati."Al, beneran nih kita ke ruangannya? Kalau dia tiba-tiba mengeluarkan surat Drop Out gimana?" bisik Dina gemetar saat mereka berdiri di depan pintu kayu jati bertuliskan nama. Reihan Dirgantara, M.T., Ph.D.Alya menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian. "Lebih baik menghadap sekarang daripada hidup dibayang-bayangi nilai C, kan? Ayo."Tok, tok, tok."Masuk." Suara bariton itu terdengar dingin dari dalam.Begitu pintu terbuka, aroma kopi dan parfum maskulin yang tajam menyambut mereka. Reihan sedang duduk di balik meja kerjanya, fokus menatap layar laptop dengan kacamata bertengger di hidungnya, penampilan yang sukses membuat Dina makin ciut, tapi membuat jantung Alya berdegup tidak keruan."M-maaf mengganggu waktunya, Pak Reihan," buka Dina dengan suara mencicit.Reihan mendongak, melepas kacamatanya,
Terakhir Diperbarui : 2026-01-21 Baca selengkapnya