Malam kian merayap menuju dini hari, namun Reihan masih duduk di tempat yang sama. Tubuhnya diam, tapi pikirannya tak henti berputar. Bayangan wajah Alya yang pucat dan tatapan matanya yang terluka terus menghantui."Apa aku terlalu keras padanya…?" gumam Reihan pelan.Ia menghela napas panjang, lalu melirik ke arah tangga yang mengarah ke lantai atas. Keinginannya untuk menyusul Alya begitu kuat, tapi ia menahan diri. Ia tahu, setidaknya malam ini, Alya butuh ruang untuk sendiri.Keesokan paginya, pemandangan langka terjadi di dapur mewah itu. Reihan, yang biasanya hanya tahu cara menyeduh kopi, kini berdiri kaku di depan kompor dengan celemek melilit pinggangnya, dan lengan kemeja yang gulung hingga batas siku.Tangannya bergerak perlahan mengaduk isi panci. Sesekali ia mencicipi, mengernyit tipis, lalu menambahkan sedikit bumbu. Ia ingin bubur itu terasa pas. Tidak terlalu hambar, tidak terlalu kuat, seperti niatnya pagi ini.Ia melakukan semua ini bukan karena kewajiban, melainkan
Last Updated : 2026-02-13 Read more