“Isinya pakaian dan keperluanku, Lan,” jawab Bagas dengan santai. Lalu tanpa canggung, dia menoleh ke arah Bibi pembantu yang baru saja mendekat. “Bi, tolong bawakan semua barang-barangku dan tata dengan rapi di lemarinya Qiara.”Perkataan itu spontan membuat Dylan menatapnya tajam.“Eh, apa-apaan kamu, Gas?” tanyanya, nada suaranya mulai terdengar tidak suka. “Tiba-tiba minta Bibi bawakan barangmu. Dan kenapa juga kamu ke sini dengan membawa semua itu?”“Mulai malam ini aku akan tinggal di rumahmu, Lan,” jawabnya tenang. “Sebagai calon suaminya Qiara, tentu saja aku akan menjadi suami siaga menjelang dia melahirkan.”Dylan langsung menghela napas panjang, jelas terlihat tidak sepenuhnya setuju.“Nggak perlu sampai segitunya sih, Gas,” katanya. “Lagian aku juga sudah ambil cuti, jadi biar aku dan Bundanya saja yang siaga menjaga Qiara.“Lebih banyak orang yang siaga, itu lebih baik, Lan," sahut Bagas mantap.“Om Bagas benar, Yah.” Qiara tiba-tiba menyahut, membuat Dylan menoleh ke ara
Baca selengkapnya