Dengan sisa tenaga dan kesadarannya, Qiara berusaha mendorong dada bidang suaminya, mencoba melepaskan diri.Namun, Bagas justru menahannya dengan satu tangan yang kuat di pinggang istrinya. Kekuatan pria itu jauh lebih besar, membuatnya tak bisa bergerak sedikitpun. Bagas bahkan tak berniat berhenti, seolah tak peduli ada orang lain di luar."Papi, Mami, kalian dengar aku nggak?" tanya Maira lagi, suaranya terdengar semakin tidak sabar.Bagas mendengus kesal di dalam hati. Menurutnya, saat ini anaknya benar-benar mengganggu momen manis mereka. Tapi dia tetap berusaha tenang, dan justru semakin mempererat pelukannya, tak mau melepaskan istrinya sedikitpun."Aahh iya, Mai. Nanti kami makan!" sahut Qiara dengan bersusah payah. Suaranya terdengar tercekat, sedikit bergetar, dan wajahnya memerah padam karena menahan rasa malu bercampur nikmat."Oke. Aku tunggu di ruang makan, ya!" ucap Maira lagi.Namun kali ini Qiara sama sekali tak mampu menjawab. Dia buru-buru menutup bibirnya mengguna
Mehr lesen