"Itu Om paham," sahut Qiara pelan, wajahnya semakin memerah dan menunduk karena rasa malunya sudah memuncak."Tapi jujur dulu, air apa ini? Om jadi curiga nih," tanya Bagas masih tampak ragu, matanya menyipit menatap botol plastik itu dengan penuh tanda tanya."Air biasa kok, Om. Air putih murni. Aku ambil dari rumah, memang sengaja bawa buat Om satu dan buat Ayah satu," jawab Qiara berusaha terdengar meyakinkan agar suaminya tidak semakin curiga.Dia sengaja berbohong dan tidak berani bilang kalau ini air do'a dari seorang Ustad, karena Maira sudah pesan dari awal. Katanya, kalau jujur takutnya Bagas malah menolak dan menganggapnya takhayul."Di sini 'kan ada air galon. Ngapain repot-repot bawa dari jauh. Yang Om butuhin cuma kamu, Sayang. Nggak ada yang lain," ucap Bagas manja."Ya tapi air di sini kan rasanya beda, Om. Mangkanya aku sengaja bawa air dari rumah," jawab Qiara beralasan."Ya sudah, Om akan meminumnya sampai habis. Tapi ada syaratnya lho.""Ih nggak deh, aku nggak mau
อ่านเพิ่มเติม