Qiara tersentak sedikit, lalu menoleh cepat ke arah sumber suara. Ternyata Bagas sudah terbangun. Pria itu berbaring miring, menopang kepalanya dengan satu tangan, sementara matanya yang masih sedikit sayu menatap mereka dengan senyum menggoda yang tercetak jelas di bibirnya. "Masih juga pagi, Kai udah minta nenen aja. Papi juga kepengen nenen dong, Mi," ucapnya dengan nada manja, tangannya terangkat lalu mengelus lembut pipi kanan istrinya. "Wajarlah, Om, namanya Kai masih bayi." "Om juga 'kan bayimu, Sayang, bayi gede." "Bukan bayi gede, tapi bayi tua." Qiara terkekeh, matanya menyipit geli melihat tingkah suaminya. "Tua-tua begini goyangan Om masih mantep, kan? Buktinya Kai jadi." Bagas menyeringai, nada suaranya penuh percaya diri bercampur godaan. "Apa sih Om, kok tiba-tiba ke goyangan? Nggak nyambung ah." Qiara memutar bola matanya malas, meski senyum masih tak lepas dari bibirnya. Bagas perlahan duduk, menyandar pada sandaran tempat tidur. Bibirnya mengerucut man
Mehr lesen